20 Nov 2012

Sengaja Nyontek atau Tidak Sengaja Nyontek?

Saat membaca artikel bertema pendidikan dari VOA Indonesia yang berjudul "Universitas Harvard Diguncang Skandal Nyontek" yang berisi Harvard yang angkuh itu kini berjuang mengatasi cela yang memalukan dalam catatan sejarah dan reputasi universitas itu. Cela itu terkait dengan skandal “nyontek” yang melibatkan sekitar 125 mahasiswa dalam mata kuliah pemerintahan,  aku langsung berdecak kagum. Kenapa kagum? yeah, karena berita ini muncul lantaran Harvard adalah Salah satu Universitas terbaik dan bergengsi di Dunia yang tentu saja jauh dari kata 'nyontek'.


Skandal ini akan jadi sangat memalukan jika dialami oleh Kampus favorit dunia seperti Harvard. Lalu bagaimana dengan Kampus-kampus di Indonesia? pernahkah mengalami skandal serupa?

Sampai sekarang, saya masih berstatus mahasiswa. Saya juga pernah jadi pelajar SD, SMP, dan SMA. Dan jangan ditanya soal contok-mencontek. Tidak bermaksud menjelek-jelekkan, tapi memang kenyataannya begitu. Ibu saya sendiri sangat, sangat, dan sangat tidak suka dengan istilah menyontek dan beliau pun selalu mewanti-wanti saya untuk tidak pernah menyontek, apapun alasan dan situasinya. Yeah, benarkah saya tidak pernah menyontek?

Kasus kebocoran soal UN, kasus kunci jawaban UN yang menyebar lewat SMS, kasus penjualan kunci jawaban UN, kasus perjokian skripsi, kasus jual beli 'kursi', kasus 'bisa lulus asal bayar', dan kasus-kasus 'unik' lainnya. Barangkali, inilah yang membuat wajah pendidikan Indonesia jadi buram. Paling tidak, itulah salah satu alasannya. Sebenarnya, bisalah kita berkaca pada wajah pendidikan luar negeri yang amat sangat tidak menyetujui tindakan menyontek dan dibuat sedemikian rupa agar anak-anak didiknya terbiasa dan terdidik untuk tidak menyontek.

No 1-100 donk coy!!

Mungkin juga, inilah yang membuat anak-anak Indonesia lebih memimpikan kuliah di luar negeri ketimbang di negeri sendiri. Tentu tak semua seperti itu.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai pelajar yang juga tak luput dari pengalaman menyontek, ada beberapa alasan yang menyebabkan menyontek menjadi jalan keluar paling ampuh:

1. Malas
Yap, alasan paling mutakhir. Mari flash back sedikit, selama satu minggu full, kita dijejali 3 sampai 4 mata pelajaran dan masing-masing pelajaran memberikan oleh-oleh berupa PR yang dikumpulkan besok atau minggu depan. Jumlah PR yang menumpuk dan kebiasan sistem kebut semalam inilah yang membuat menyontek menjadi pilihan pertama dan terakhir. Hal ini tentu saja membutuhkan donatur PR yang dapat dipercaya, dipercaya jawabannya benar. Malas bisa karena PR terlalu banyak atau soalnya terlalu sulit. Masing-masing anak memiliki daya tangkap yang berbeda.

2. Menyerah
Bisa saja si anak sudah berusaha sekuat tenaga mengerjakan PR tersebut namun apa daya soal terlalu sulit dan akhirnya si anak menyerah dan akhirnya pula dia menyontek. Ada baiknya jika hasil contekannya itu dipelajari dengan baik agar jadi penyontek yang cerdas.

3. Lupa
Yeah, banyak lho siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi yang sudah pikun sebelum waktunya. Biasanya disebabkan karena beberapa kegiatan yang lebih mendominasi, contohnya main game atau sibuk kegiatan ekskul. Jalan terakhir tentu saja nyontek. Hal ini terkadang menjangkiti para aktivis sekolah/kampus yang notabene pintar juga lho.

4. Tidak Percaya Diri
Ya, sayalah korbannya. Ketika telah selesai mengerjakan PR atau soal latihan bahkan ulangan/ujian, ada rasa penasaran, apa jawabannya sudah benar atau tidak. Inilah yang menyebabkan virus-virus nyontek menjangkit. Ketika jawaban kita berbeda dengan teman-teman lain, munculah rasa tidak PD. Entah ingin PD dengan jawaban sendiri atau mengikuti jawaban teman. Galau deh heu. Dan tanpa sengaja, nyontek deh =,=

5. Kebiasaan
Susah sih ya kalau nyontek udah jadi kebiasaan. Bisa karena biasa. Kalau segala sesuatu yang buruk sudah dijadikan kebiasaan, maka hanya diri kita sendirilah yang bisa merubahnya. Kalau kebiasaan nyontek dipelihara, otomatis dampaknya akan menjadi malas, tidak percaya diri, menyerah, dan akhirnya secara terus-menerus akan mengandalkan orang lain sebagai penopang nilai akademik.

<(~.~)>

Saya pikir, kasus di Harvard itu merupakan peristiwa yang sangat terpaksa terjadi lantaran pelaku nyontek sudah tidak punya jalan keluar, buntu, kali, ya. Tapi, mau bagaimanapun juga, sebenarnya kan menyontek itu tetap tidak baik.

Tanpa harus menyontek pun, banyak kok pelajar-pelajar Indonesia yang sukses, banyak juga yang sampai ikut bersaing dengan pelajar-pelajar luar dalam olimpiade, hebat yah. Ya, Indonesia juga bisa kok melahirkan generasi penerus yang cerdas. Ya gak?

Jadi, mau sengaja nyontek, tanpa sengaja nyontek, atau jadi penyontek cerdas haha :D. Lebih baik jangan nyontek deh :D



Yuk Mariii *.*



sumber gambar dan referensi
http://www.voaindonesia.com/content/universitas-harvard-diguncang-skandal-nyontek/1526023.html
http://bl0gnya-blogger.blogspot.com/2011/05/tips-gokil-saat-ketahuan-nyontek.html

7 komentar:

  1. Ini ada salah satu artikel di blog dosen saya yang isinya menyadur dari tulisan Hamdan Juhannis, Guru Besar Ilmu Sosiologi UIN Alaudin.
    Berkisah tentang budaya menyontek dan kebohongan di negeri ini juga :

    http://julio.staff.ipb.ac.id/2011/memutar-balik-jarum-jam-tradisi-bohong-oleh-hamdan-juhannis

    BalasHapus
  2. selamat berlomba.. :)

    menyontek sama saja membohongi diri sendiri..

    BalasHapus
  3. wah. . .wah amazing nih,,nyontek sepertinya emang udah jadi satu kebiasaan yang udah menjamur di negeri ni. . . .,eh kemaren aku juga uts baru nyontek dari no 1 sampe 5 h ahahha .. .

    BalasHapus
  4. Malem sobat..
    Waw nice post..
    Yang post sebelum nya juga bagus tapi ini lebih baik dari yang lalu..:)
    terus berkarya ya..
    Haha..:D
    oh ya mampir juga ya ke my blog..:)

    BalasHapus
  5. sebenernya yg nyontek di harvard itu aku ka..
    aaaaa jadi malu >.<

    BalasHapus
  6. aku semenjak semasa kuliah nyonteknya udh agak berkurang juga sih untungnya :D

    BalasHapus
  7. faktor paling akurat sih mereka2 yang tidak belajar pastinya

    BalasHapus

was wes wos...^^