Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Hanya Sekedar Fiksi Tak Berjudul

"Kenapa harus terjadi banjir?"

"Karena sampah."
"Kenapa sampah? apa salah sampah? jadi gue harus nyalahin sampah?"
"Karena sampah yang dibuang sembarangan."
"Jadi salah siapa, dong?"
"Salah orang yang ngebuang tu sampah."
"Emang cuma sampah? bisa aja karena penebangan liar jadi, kan minim daerah resapan air!"
"Nah itu situ pinter, berarti situ juga tahu seberapa besar pengaruh sampah terhadap terjadinya banjir akhir-akhir ini."
"Tau."
"Apean?"
"Membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, bikin sungai mampet, ujung-ujungnya meluap, luber, banjir deh."
"Lah itu tau, ngape nanya?!"
"Gue udah gak ngomongin banjir, tapi ngomongin longsor."
"Ecape deh. Gak beda jauh, longsor juga bisa diakibatkan penebangan liar, kondisi tanah jadi tidak stabil."
"Terus gimana caranya biar rakyat gunung dan penghuni bantaran kali gak kena banjir atau longsor?"
&…

Hanya Sekedar Fiksi Tak Berjudul

Gambar
- Hanya Sekedar Fiksi -

Langkahku terasa pasti. Pasti semangat. Pasti sampai. Pasti selamat. Pasti ketemu. Pasti hanya Tuhan yang bisa menjamin keselamatanku. Aku ingin tahu siapa ayahku dan dua orang yang ada di foto itu. Selembar foto lama sedikit mengejutkanku. Foto diriku ketika kecil dulu sedang merangkul anak kecil perempuan yang sepertinya sebaya denganku, wajahnya agak sedikit mirip, tapi........rambutnya pirang. Tidak hanya aku dan gadis itu, ada pula seorang lelaki yang diperkirakan 2 atau 3 tahun lebih tua. Perawakannya tinggi, berbadan kekar, kulit putih, rambutnya kepirangan. Tampan rupawan.
"Mereka adalah saudara tirimu, nak." Jawab ibuku tentang misteri dua orang yang tengah berfoto bersamaku ketika aku masih kecil. Aku bahkan sudah lupa kalau pernah bertemu mereka.
Sasya, nama si gadis bule yang berfoto denganku. Aku merasa mirip dengannya, bedanya dia bule, aku buluk. Sun, nama lelaki tinggi yang ternyata adalah kakak tiriku. Bangganya punya kakak tampan. Be…