27 Nov 2012

Ketua DPR RI vs Ketua PPI Jerman: Seru Sekali!

Hari ini, secara kebetulan, saya melihat acara debat kusir antara Ketua DPR RI dan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman di acara Talk Show TV One. Yap, debatnya seru sekali. Materi diskusi pagi tadi tentang Kontroversi Kunjungan Kerja DPR yang memang selalu menjadi sorotan tajam masyarakat Indonesia.



Berikut ini akan saya paparkan beberapa poin yang sempat saya catat, tentunya juga yang membuat saya dan beberapa teman saya yang notabene bapak-bapak agak-agak ketawa dikit hihihi...

~.~

1. Pertama, saya langsung terkesima saking takjubnya ketika sang Ketua DPR berkata bahwa 'DPR itu adalah badan yang paling transparan di Indonesia'. Di balik itu, sang Ketua PPI Jerman mengatakan bahwa ia menginginkan agar DPR lebih transparan terhadap apa-apa saja yang dikerjakan oleh DPR dan paling tidak, ditulis dengan jelas di website DPR. Umm..barangkali sekalian diunggah di youtube saja kayak apa yang dilakukan Wakil Gubernur DKI kita yang tersohor heu.

Nah, apakah DPR sudah transparan tentang apa saja yang dilakukan/dikerjakan dan apa hasilnya sehingga dapat ditunjukkan kepada masyarakat Indonesia sehingga kita-kita ini jadi gak suudzon ni, Pak :D

 ~.~

2. Masalah dana yang dikeluarkan oleh DPR untuk kunjungan kerja yang paling-paling juga kurang dari seminggu itu biasanya MILIARAN. Kemudian, sang Ketua PPI Jerman nyeletuk sembari ketawa, 'Lah kita aja kuliah bertahun-tahun paling ngabisin ratusan juta', intinya gak nyampe se-EM-lah yaw. Lah kunjungan kerja yang ga nyampe seminggu doank ngabisin EM-EM-an. Ya begitulah kira-kira yang dimaksud sang mahasiswa.

Nah, justru itu, kembali lagi ke transparansi. Bagaimana caranya supaya kita-kita ini gak berprasangka buruk terhadap DPR yang sering sekali ada acara study banding atau study tour atau apalah ora ngerti. Saya juga sebagai mahasiswa hanya berpikir realistis saja kok. Malah saya mikirnya, Oooohh iya kan tiket kesono mahal, Ooooohhh iya nginepnya kan pasti di hotel bintang 10, Oooohhh ya kan ada duit sakunya juga, Ooooohhh ya kan disono makanannya enak-enak plus mahal-mahal, jadinya iye kali ampe se-EMber. Iya, sedang berusaha untuk tidak suudzon :D

  ~.~

3. Debat ini juga membahas tentang kunjungan DPR yang katanya salah alamat. Jadi ceritanya, DPR itu mau membahas masalah keinsinyuran, tapi (katanya) malah ke DIN (Deutsches Institut für Nörmung) yang mengurusi masalah standarisasi produk.

Karena penasaran, saya coba cari apa itu DIN. Setelah nego bentar ama mbah Gugel, akhirnya saya menemukan website DIN yang beralamat di http://www.din.de

DIN, the German Institute for Standardization offers stakeholders a platform for the development of standards as a service to industry, the state and society as a whole


Nah, kalau saya yang menterjemahkan sih emang bener seperti yang diberitakan, DIN ngurusin masalah standarisasi produk gitu intinya. Dan lagi, katanya juga DIN itu bukan lembaga pemerintahan. Haduh pusing deh. Seriusan, Ketua PPI Jermannya aja ketawa-ketiwi saking lucunya kayaknya. 

~.~

4. Ketua PPI Jerman berpendapat bahwa anggota DPR yang sering melakukan kunjungan kerja itu kurang persiapan, artinya segala sesuatunya tidak dipersiapkan secara matang. Pernyataan ini tentu saja dibantah oleh Ketua DPR yang mengatakan bahwa setiap kunjungan kerja sudah dipersiapkan sejak 2 bulan sebelum keberangkatan. Dan dipertegas lagi oleh beliau bahwa persiapannya emang 2 bulan sebelumnya, tapi selesainya ya menjelang hari H. Heu :3

Balik lagi pada pernyataan Ketua PPI Jerman, ia mengatakan bahwa saat ada study banding pun, anggota DPR terkait tidak terlalu menguasai Bahasa Inggris sehingga diperlukan penterjemah. Hal ini membuat Sang Ketua PPI pun beranggapan bahwa acara study banding ini tak dipersiapkan secara matang dan balik lagi ke bantahan awal heu. Gak abis-abis ini mah.

Ketua DPR pun membela diri (dan kawan-kawannya) dengan mengatakan bahwa tidak semua orang menguasai bahasa asing, seringkali misalnya di Jerman itu menggunakan Bahasa Jerman atau di Perancis yang juga menggunakan Bahasa Perancis. Iya, saya juga tahu, Pak. Gak mungkin juga di Jerman pake bahasa jawa.

Lagi-lagi saya cuma ingin berpikir realistis. Ya toh semua juga tahu kalau Bahasa Inggris adalah bahasa Internasional yang mustinya siiihhh sudah dikuasai oleh orang-orang yang memang dituntut untuk bisa dan mampu berhadapan dengan orang asing. Masalah bahasalah yang saya maksud. 

~.~

5. Inilah pernyataan Ketua DPR yang agak-agak menohok menurut saya sih. 'Anda kan orang Indonesia, pakailah etika orang Indonesia, bukan Barat'. Oh yeah, saya kurang tahu bagaimana etika orang Indonesia yang sedang kuliah di negeru Barat, khususnya kepada Ketua PPI Jerman yang beliau maksud itu he.

Pernyataan ini dikeluarkan karena Pak Ketua DPR mempertanyakan masalah mahasiswa Jerman yang ikut masuk ruang rapat. Ya ingin tahu maksudnya. Beliau berkata bahwa mereka sebagai pihak luar tidak punya urusan masuk-masuk ruang rapat. Intinya, ngapain juga kalian para mahasiswa ikut-ikutan rapat, kan gak ada urusannya heu.

~.~

6. Endingnya nih. Sebenarnya, para mahasiswa Jerman itu hanyalah menginginkan sebuah transparansi saja kok. Gak neko-neko, kan? mereka ingin tahu, apa tujuan dari study banding itu, siapa saja yang study banding dan apa saja yang dibahas. Agak kepo ya? ya daripada pada suudzon. Mereka kritis-kritis lho, saya saja takjub :o

Nah, Kakak Ketua PPI Jerman pun memberikan solusi sederhana. Info-info tentang study banding itu bisa saja di upload ke website DPR sehingga mudah untuk diakses, ya to? cuma itu doank padahal inti permasalahannya sih hadeh =,= tapi kenapa jadi pabeulit kitu nyak?

Tapi ya pastilah Pak Ketua DPR membela diri lagi heu (gak selesai-selesai ini mah). Pokoknya katanya, itu web udah beberapa kali mengalami perbaikan dari yang dulunya begono jadi begini dan ..... nah ini nih yang lagi-lagi bikin saya nahan-nahan laper. Beliau menyatakan bahwa 'Web ini yang memperbaiki tuh Marzuki Alie lho...'

Saya coba pasang kuping sambil culak cileuk, sapa tahu aja ada yang ngomong "terus guwe musti ambil mic sambil tereak wow gitu." dan untungnya gak ada sodara-sodara.....

Ya sudahlah, namanya juga manusia, gak pernah mau kalah dan mengalah. Yeah, kalau gak dilerai ama 2 presenternya, ini debat bakal jadi sehari semalem deh kayaknya. Dua belah pihak kaga ada nyang mau ngalah euy. Keren.

~.~

Akhir kata, cuma segitu saja yang sempat saya catat dan saya ingat hehehe. Ini hiburan pagi yang sungguh menyenangkan buat saya hewhew. Yah, buat Pak Ketua DPR RI dan Kak Ketua PPI Jerman, peace, lop and gahoel aja yaaa. Damai deh :D




Yuk Mariiii :D :D :D

readmore »»  

26 Nov 2012

Tak Adakah Standarisasi 'Kenyamanan' Pada Sebuah Penjara?

Tiap kali mendengar kata penjara, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah mengerikan. Hal lainnya, tidak nyaman, penuh penjahat dan lain-lain. Ada yang menyebut penjara adalah nerakanya dunia, tapi ada yang bilang juga surganya dunia.


Kenapa dikatakan surga?



Berita ini hanya dan hanya saya baca dan tonton di Indonesia saja, di mana ada puluhan bahkan mungkin ratusan koruptor yang dipenjara tapi hidupnya bak raja dan ratu negeri 100001 malam. Untuk yang wanita, ketika sudah bebas, wajahnya terlihat sangat bening dan sangat terurus. Saya berpikir bahwa beliau ini setiap minggu ke salon dan rutin menjalani SPA (di dalam atau di luar penjara). Mungkin saja, ya? 



Untuk yang Pria, ketika keluar dari penjara, perutnya lebih buncit dari sebelumnya. Saya berpikir bahwa beliau ini kebanyakan makan makanan berkolesterol. Makanan di penjara kan enak-enak. Katanya. Yak, cukup basa-basinya.



Artikel ini saya buat karena terinspirasi dari artikel VOA Indonesia berjudul 

Amnesty International: Sistem Penjara Mozambik Langgar HAM yang berisi Amnesty International mengatakan sistem penjara di Mozambik dililit berbagai masalah yang melanggar HAM seperti populasi berjubel.


Apapun yang terjadi, narapidana juga manusia, kan, ya? Bukan berarti kalau statusnya sudah menjadi narapidana lalu dia tak lagi memiliki Hak Asasi Manusia. Paling tidak, dia masih manusia. Kecuali kalau bukan manusia. 

Menurut saya, bukan hanya penjara Mozambik saja yang sudah melanggar HAM, beberapa penjara di pelosok dunia, termasuk Indonesia pun telah melanggar HAM. Beberapa di atantarnya:

1. Sebuah penjara di Colorado yang penuh tekanan. Para napi tidak diperbolehkan keluar dari sel tahanan. Kemungkinannya ada tiga, napinya stres, gila, atau mati bunuh diri. Jelas ini pelanggaran HAM.

2. Penjara di San Francisco yang juga tak kalah kejamnya. Para napi dilanda stres karena peraturan dari sipir penjara yang tidak membolehkan ada percakapan antar napi. Yang melanggar? Hajar! Kejam? BANGET! beruntung karena penjara sudah gulung tikar. Ini juga ditutup karena sudah melanggar HAM.

3. Penjara di New York. Banyak terjadi penyiksaan yang dilakukan penjaga penjara terhadap napi. Kemungkinannya juga tiga: stres, gila, bunuh diri. Melanggar HAM, kan, ya? 

4. Surga dan Neraka di dalam penjara Indonesia. Kenapa ada dua macam? seperti yang sudah dijelaskan di awal artikel, sepertinya, penjara di Indonesia itu pilih kasih antara si kaya dan si rakyat biasa. Bagi si kaya, penjara bisa sama dengan rumah mewah, tapi bagi si rakyat biasa?

dan masih banyak lagi penjara-penjara menyedihkan di luar sana :(

***

Saya pikir, perlu adanya standarisasi untuk setiap penjara di dunia. Yeah, paling tidak untuk di Indonesia saja dulu. Tentu saja standar ini berlaku untuk setiap yang mendapat kehormatan menyandang gelar narapidana, entah itu yang berduit atau tidak. Standar ini haruslah sudah include dengan tata tertib dan peraturan agar napi-napi terbiasa hidup disiplin. Memberikan efek jera memang perlu, tapi bukan dengan cara membantai napi. Cukuplah dengan terbatasnya ruang hidup si napi, yaitu hanya di dalam LAPAS saja.



Menurut saya, penjara bukan hanya dijadikan kurungan dan tempat pemberi efek jera bagi penghuninya, penjara bisa dijadikan sarana rehabilitasi psikologi dan pelatihan untuk menambah skill/kemampuan bagi para penghuninya sehingga ketika para napi sudah bebas, mereka sudah siap kembali menjalani kehidupan baru dengan bekal yang sudah ia bawa sebelumnya.

Selain tentang standar 'kenyamanan', perlu juga diperhatikan tentang batas maksimal penghuni Lembaga Permasyarakatan. Apa jadinya jika Lapas sudah terlalu banyak menampung napi? Ya, itu artinya makin meningkat saja kejahatan.

Dalam hal ini, saya bukannya kasihan pada napi yang jelas-jelas bersalah, tapi mereka juga berhak untuk mendapat pelayanan sewajarnya. Ya, sewajarnya itu bukan disiksa sampai mati, dikurung tanpa boleh keluar sel atau tak dikasih makan. 

Membuat sesuatu secara wajar, wajar jadi mendidik, mendidik membentuk pribadi yang kuat dan bermanfaat ;)



Yuk Mariii ~~



sumber gambar dan referensi
readmore »»  

20 Nov 2012

Sengaja Nyontek atau Tidak Sengaja Nyontek?

Saat membaca artikel bertema pendidikan dari VOA Indonesia yang berjudul "Universitas Harvard Diguncang Skandal Nyontek" yang berisi Harvard yang angkuh itu kini berjuang mengatasi cela yang memalukan dalam catatan sejarah dan reputasi universitas itu. Cela itu terkait dengan skandal “nyontek” yang melibatkan sekitar 125 mahasiswa dalam mata kuliah pemerintahan,  aku langsung berdecak kagum. Kenapa kagum? yeah, karena berita ini muncul lantaran Harvard adalah Salah satu Universitas terbaik dan bergengsi di Dunia yang tentu saja jauh dari kata 'nyontek'.


Skandal ini akan jadi sangat memalukan jika dialami oleh Kampus favorit dunia seperti Harvard. Lalu bagaimana dengan Kampus-kampus di Indonesia? pernahkah mengalami skandal serupa?

Sampai sekarang, saya masih berstatus mahasiswa. Saya juga pernah jadi pelajar SD, SMP, dan SMA. Dan jangan ditanya soal contok-mencontek. Tidak bermaksud menjelek-jelekkan, tapi memang kenyataannya begitu. Ibu saya sendiri sangat, sangat, dan sangat tidak suka dengan istilah menyontek dan beliau pun selalu mewanti-wanti saya untuk tidak pernah menyontek, apapun alasan dan situasinya. Yeah, benarkah saya tidak pernah menyontek?

Kasus kebocoran soal UN, kasus kunci jawaban UN yang menyebar lewat SMS, kasus penjualan kunci jawaban UN, kasus perjokian skripsi, kasus jual beli 'kursi', kasus 'bisa lulus asal bayar', dan kasus-kasus 'unik' lainnya. Barangkali, inilah yang membuat wajah pendidikan Indonesia jadi buram. Paling tidak, itulah salah satu alasannya. Sebenarnya, bisalah kita berkaca pada wajah pendidikan luar negeri yang amat sangat tidak menyetujui tindakan menyontek dan dibuat sedemikian rupa agar anak-anak didiknya terbiasa dan terdidik untuk tidak menyontek.

No 1-100 donk coy!!

Mungkin juga, inilah yang membuat anak-anak Indonesia lebih memimpikan kuliah di luar negeri ketimbang di negeri sendiri. Tentu tak semua seperti itu.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai pelajar yang juga tak luput dari pengalaman menyontek, ada beberapa alasan yang menyebabkan menyontek menjadi jalan keluar paling ampuh:

1. Malas
Yap, alasan paling mutakhir. Mari flash back sedikit, selama satu minggu full, kita dijejali 3 sampai 4 mata pelajaran dan masing-masing pelajaran memberikan oleh-oleh berupa PR yang dikumpulkan besok atau minggu depan. Jumlah PR yang menumpuk dan kebiasan sistem kebut semalam inilah yang membuat menyontek menjadi pilihan pertama dan terakhir. Hal ini tentu saja membutuhkan donatur PR yang dapat dipercaya, dipercaya jawabannya benar. Malas bisa karena PR terlalu banyak atau soalnya terlalu sulit. Masing-masing anak memiliki daya tangkap yang berbeda.

2. Menyerah
Bisa saja si anak sudah berusaha sekuat tenaga mengerjakan PR tersebut namun apa daya soal terlalu sulit dan akhirnya si anak menyerah dan akhirnya pula dia menyontek. Ada baiknya jika hasil contekannya itu dipelajari dengan baik agar jadi penyontek yang cerdas.

3. Lupa
Yeah, banyak lho siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi yang sudah pikun sebelum waktunya. Biasanya disebabkan karena beberapa kegiatan yang lebih mendominasi, contohnya main game atau sibuk kegiatan ekskul. Jalan terakhir tentu saja nyontek. Hal ini terkadang menjangkiti para aktivis sekolah/kampus yang notabene pintar juga lho.

4. Tidak Percaya Diri
Ya, sayalah korbannya. Ketika telah selesai mengerjakan PR atau soal latihan bahkan ulangan/ujian, ada rasa penasaran, apa jawabannya sudah benar atau tidak. Inilah yang menyebabkan virus-virus nyontek menjangkit. Ketika jawaban kita berbeda dengan teman-teman lain, munculah rasa tidak PD. Entah ingin PD dengan jawaban sendiri atau mengikuti jawaban teman. Galau deh heu. Dan tanpa sengaja, nyontek deh =,=

5. Kebiasaan
Susah sih ya kalau nyontek udah jadi kebiasaan. Bisa karena biasa. Kalau segala sesuatu yang buruk sudah dijadikan kebiasaan, maka hanya diri kita sendirilah yang bisa merubahnya. Kalau kebiasaan nyontek dipelihara, otomatis dampaknya akan menjadi malas, tidak percaya diri, menyerah, dan akhirnya secara terus-menerus akan mengandalkan orang lain sebagai penopang nilai akademik.

<(~.~)>

Saya pikir, kasus di Harvard itu merupakan peristiwa yang sangat terpaksa terjadi lantaran pelaku nyontek sudah tidak punya jalan keluar, buntu, kali, ya. Tapi, mau bagaimanapun juga, sebenarnya kan menyontek itu tetap tidak baik.

Tanpa harus menyontek pun, banyak kok pelajar-pelajar Indonesia yang sukses, banyak juga yang sampai ikut bersaing dengan pelajar-pelajar luar dalam olimpiade, hebat yah. Ya, Indonesia juga bisa kok melahirkan generasi penerus yang cerdas. Ya gak?

Jadi, mau sengaja nyontek, tanpa sengaja nyontek, atau jadi penyontek cerdas haha :D. Lebih baik jangan nyontek deh :D



Yuk Mariii *.*



sumber gambar dan referensi
http://www.voaindonesia.com/content/universitas-harvard-diguncang-skandal-nyontek/1526023.html
http://bl0gnya-blogger.blogspot.com/2011/05/tips-gokil-saat-ketahuan-nyontek.html
readmore »»  

18 Nov 2012

Pahlawan-pahlawan di sekitarku

Berhubung pahlawan-pahlawan pembela bangsa telah mendahului kita, jadinya aku mah mau membahas pahlawan-pahlawan di sekitarku saja. Kalau melihat kondisi negara saat ini, sosok pahlawan seperti tak kasat mata.


Dalam keluarga intiku, hanya bapakku saja yang kerja, tentunya itu sebelum aku kerja. Bapak yang memenuhi kebutuhan keluarga, tak hanya keluarga inti saja, tapi juga keluarga besarnya. Membiayai hidup, menyekolahkan anak-anaknya, kebutuhan makan sehari-hari, menyekolahkan ponakan-ponakan, membantu keluarga yang sekiranya perlu dibantu dll. Bapakku pahlawanku.

...

Jangan pernah berpikir kalau pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga itu cemen. Bangun lebih pagi dari yang lainnya, menyiapkan makan, membereskan rumah, masak lagi, beresin rumah lagi, dan seterusnya sampai waktu tidur malam tiba dan begitulah setiap hari. Seperti tak ada lelahnya seorang ibu begitu sabar dan semangat menyemangati anak-anaknya ke sekolah, menyiapkan bekal dan memarahi anaknya kalau pada nakal hehe. Ibuku pahlawanku.

...

Beberapa kali kulihat seorang kakek mendorong gerobak berisi dus-dus dan barang-barang bekas. Kulihat pula sepatunya seperti sudah tak layak pakai. Terus saja ia dorong gerobaknya meski hanya bisa pelan sekali. Beberapa kali pula kulihat seorang nenek yang juga tengah mendorong gerobak berisi kayu-kayu bekas pakai. Entah apa yang ada dipikiranku, tapi seharusnya nenek itu tak melakukan pekerjaan seberat itu. Belajar dari dua sosok yang tak sengaja kutemui, bahwa betapa dibutuhkannya uang, meski hanya selembar seribuan. Betapa mencari uang itu tak mudah, butuh kerja keras. Yapp, tak seperti maling-maling duit rakyat di luar sana heu. Ada banyak kok sosok seperti kakek dan nenek itu di luar sana. Mereka juga pahlawan. Pahlawan untuk keluarga yang sedang menunggunya di rumah.


Sedikit saja dari Ca Ya, semoga kita bisa tetap bersemangat seperti pahlawan-pahlawan hebat di sekitar kita.


Yuk Mariii :)

readmore »»  

7 Nov 2012

Guru, Pahlawan Pendidikan Indonesia

Guru menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup kita. Guru tidak semata-mata seseorang yang setiap hari mengajarkan anak-anak muridnya di depan kelas. Menghadapi kenakalan anak-anak dengan penuh kesabaran dan berusaha mendidik anak-anak muridnya agar kelak menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsanya. 

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Setidaknya, seorang guru tak akan meminta kembali ilmu yang sudah diberikan pada kita. Betul? entah sudah berapa juta anak yang sudah dibekali ilmu oleh seorang guru. Presiden tak akan bisa memimpin negara tanpa andil seorang guru. Astronot tak akan menginjakkan kaki di bulan tanpa jasa guru, bahkan aku tak bisa mengetik artikel ini tanpa jasa guru.

Guru tidak hanya seseorang yang berdiri dan mengajar di depan kelas.

Ketika kita lahir, ibu adalah guru pertama yang kita kenal. Bagiku, semua ibu yang ada di dunia adalah guru. Ibu yang mengajarkanku berbicara, berjalan, berlari, membaca, menulis, menggambar dan masih banyak lagi pelajaran hidup yang diberikan oleh seorang ibu. Ya, ibu juga seorang guru. Guru bagi anak-anaknya. Meskipun ia tidak mengajar di depan kelas.

Pengalaman adalah guru yang berharga.

Ketika aku masih kecil, aku belajar mengaji di TPA. Hingga pada saatnya aku jadi bocah kecil petualang karena harus ikut orang tua yang pindah kerja. Guru mengaji terus berganti, tanpa lelah mengajariku mengaji. Hingga suatu hari, aku suka iseng ikut lomba mengaji dan piala pertama yang terpajang di kamarku adalah piala dari lomba mengaji anak-anak. Pengalaman yang lebih mendebarkan pun kualami ketika mengikuti lomba mengaji dengan taraf yang lebih tinggi. Membuatku bisa berkeliling kota. Ya, begitu besar jasa guru-guru mengajiku. Pengalamanku pun ikut menjadi guru bagiku karena tak hanya sampai disitu saja aku belajar.

Kehidupan asrama dengan sejuta guru di dalamnya.

Hidup di asrama membuatku mengerti apa artinya mandiri, apa artinya jangan selalu bergantung pada orang lain, apa artinya tidak lagi manja seperti di rumah sendiri. Satu asrama dengan beberapa teman sebaya, bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak dan kakek-kakek membuatku memiliki keluarga baru sekaligus guru baru. Ya, lagi-lagi aku dipertemukan dengan seorang guru. Mereka bukanlah guru yang mengajar di kelas, mereka orang-orang hebat yang telah mengajariku banyak hal. 

Jangan cengeng, jangan manja, belajarlah mandiri!

Tanpa kita sadari, pelajaran berhitung yang diajarkan oleh ibu bapak guru di sekolah, telah kita serap dan kembali kita ajarkan pada adik-adik kita. Sesuatu yang sederhana, meski hanya 1 + 1 tetapi itu tetaplah ilmu yang pahalanya akan terus dan terus mengalir meski telah meninggal dunia. Senyum sang guru pun akan terukir manakala melihat anak-anak didiknya tak lagi menangis di sekolah ketika ditinggal pulang ibunya, tidak lagi jadi anak manja yang selalu ingin ditemani ibunya ketika masuk sekolah, menjadi pribadi yang mandiri, minimal bisa makan sendiri (hehe).

Alam pun turut mengajarkan.....

Manusia pun banyak belajar dari alam. Bagiku, alam adalah guru yang paling menyeramkan jikalau marah. Pengalamanku saat dimarahi guru, emmm...banyak. Saat buku catatanku diperiksa, ada kesalahan penulisan singkatan. Sosial Budaya jika disingkat jadi SOSBUD, tapi di catatanku kutulis SOSBUT, jadinya Sosial Butaya dong haha. Lalu ketika buku catatanku dilempar karena tak lengkap, mengenaskan. Lalu ketika aku terus menghadap ke belakang saat sedang mencatat, itu karena mataku rabun, gak bisa lihat tulisan di papan tulis, jadi lihat catatan teman di belakang hehe. Dan masih banyak lagi. Di balik itu semua, aku tetap sayang guru-guruku. Marah berarti sayang, kan, ya?

Bagaimana kalau alam yang marah?

Banjir, tsunami, gempa bumi, tanah longsor. Ketika manusia tak lagi bersahabat dengan alam, maka alam pun berbicara bahwa ia marah. Marah karena merasa tak dianggap padahal sama-sama ciptaan Tuhan. Ya, alam pun mengajarkan bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan lho, jadi marilah kita bersahabat dengan alam, dengan begitu kemarahan alam pun bisa dibendung.

Indonesia Berkibar, Indonesia Merdeka

Di tengah huru-hara pergantian kurikulum SD dan masih buruknya infrastruktur pendidikan di beberapa daerah, program Indonesia Berkibar memang membawa angin segar bagi Pendidikan Indonesia. Kualitas guru ditingkatkan, memperbaiki kepemimpinan sekolah, tata kelola sekolah sehingga diharapkan ke depannya, setiap sekolah akan memiliki kualitas lebih baik dari segi pengajar, organisasi dan fasilitas sekolah. 

Guruku Pahlawanku.

Dahulu, kita mengenal sosok pahlawan adalah sebagai orang yang membela negara, berperang mengorbankan nyawa demi bangsa. Tapi saat ini, di tengah problematika negara yang terus-menerus bergulir tiada henti, sosok pahlawan yang diidamkan setiap orang pun menjadi pudar. Guru menjadi salah satu sosok pahlawan nyata yang jelas sekali membela bangsa. Meski harus melewati medan yang sulit demi membagi ilmunya, meski dengan fasilitas belajar seadanya, bahkan mungkin saja tak memikirkan soal upah yang diterima. Semangat yang berkobar-kobar seolah tak pernah sirna dari sosk seorang guru. Aku begitu menghormati dan bangga bisa bersekolah sehingga mengenal berbagai macam tipe guru, dilihat dari cara mengajarnya, caranya berbicara, caranya menghadapi anak-anak didiknya, caranya memberikan trik-trik berhitung cepat, caranya memarahi anak-anak didiknya yang nakal, caranya tersenyum bangga ketika anak didiknya juara kelas. 

Masihkah kita ragu untuk memberikan gelar pahlawan bagi guru-guru kita? bagi seluruh guru yang ada di Indonesia bahkan di dunia?

Semoga ilmu yang kita terima dari guru-guru kita dapat bermanfaat bagi bangsa, amin.




Yuk Mariii :)



sumber gambar:

readmore »»  

5 Nov 2012

Jadi Ceritanya Si Kacamata itu....

Jadi ceritanya aku lagi pengen ngetik-ngetik gaje.
Jadi ceritanya aku lagi kepengen gogoleran di kasur sambil nonton pelm di lepi.
Jadi ceritanya aku lagi males belajar buat UTS.
Jadi ceritanya aku mau komik Conan terbaru pokoknya.
Jadi ceritanya aku pengen maeeeeeeennn.
Jadi ceritanya Si Kacamata itu.....

Kayaknya kalimat-kalimat di atas tidak berkesinambungan. Ah ya sudahlah, kan ceritanya temanya suka-suka gue muehehehehe.

Jadi ceritanya beberapa abad minggu lalu, kayaknya sih beberapa bulan lalu deh. Ceritanya aku punya rencana licik, mau sok sok bikin surprais gitu bcoz tgl 17 Oktober ntu Si Kacamata mau nambah tua. Kan kesian tuh udah mah nambah tua, keriput dll, masa ga dikasi ape-ape haha *becanda ah*. Awalnya belum kepikiran mau dikasi apa. Apakah ngasi gigi palsu, topeng wayang, buku Rama Shinta, bukunya Ayu Utami, Sekar Ayu Asmara, atau nyari action figure-nya wayang???

Astaga, makhluk cemana tu Si Kacamata???

Yap, dia termasuk golongan anti-mainstream sih ya heu, paling tidak dia sendiri yang ngomong haha. Dia suka hal-hal yang tak biasa disukai oleh khalayak. Misal, kalau orang-orang pada demen nonton Superman, nah dia nonton Gatotman. FYI, Gatotman itu adalah salah satu film pendek buatan anak bangsa yang sukses masuk nominasi Festival Film Tekkom (Teknik Komputer) hahahhhah :))

Kembali ke surprais. Setelah menimang-nimang banyak hal, akhirnya kuputuskan untuk ngasih dia sebuah Scrapbook atau bahasa kerennya kliping =,= Yak, storyboard pun mulai dibuat *gaya banget*. Perlu diketahui kalau aku inih tipikal manusia miskin ide dan inspirasi jadinya kalau untuk bikin sesuatu yang berbau-bau seni tuh agak susah hihi. Well, niat dulu deh :D

Brat...bret...brot...ngek...ngok....jadilah storyboardnya :D

Berikutnya tinggal beli bahan-bahan pendukung. Umm...sebenernya sih agak kurang yakin ama ni surprais tapi kudu yakin ah, sekali-sekali serius bolehlah heu. Nah, setelah belanja kebutuhan pokok kliping berikut material berupa gunting, lem kertas dan dabeltip, mulailah kliping dibuat yipiiiii.

Yang membingungkan adalah tema dari kliping inih. Intinya sih seperti buku kenangan aja. Gak ada tema khusus. Dan sebelumnya juga, aku ngumpulin poto Si Kacamata dulu dari jaman orok ampe tuir terus aku cetak deh. Nyetaknya juga gretongan di kantor *teteup gmw rugi*. 

Garis, gunting, tempel, gunting lagi, cabut, eh salah, ganti, gunting, tempel, geser dikit, fiuuuuhhhh lanjutin besok ah udah tengah malem nih *begadang jangan begadaaaang....tapi ini ada artinyaaa...*.

*Keesokan harinya saat menjelang tengah malam......*

Tempel, tempel, tempel, gunting, garis, gunting lagi, akhirnya bisa ditulisin macem-macem fiuuuhhh lapeeerrr auuussss, okeh beres selembar, astaga baru selembar??? oke lanjut, mayan deh hasilnya, berantakan siii bodo ah. Ummm...nulis apa yah binun heu. Set sat set duh duh hehoooo beres :D beres 2 lembar haha.

Ternyata buat kliping ini gak gampang :(( rasanya kok jelek ya, biasa aja, gak musti bilang WOW gitu. Ah biarlah yang penting ini bikinnya pake hati banget *muahahahhaha*

Yang spesial di kliping ini adalah......aku coba ngelukis sebuah pohon. Iya, pohon yang jadi tempat cepecial buat kita gitu, tenang ga ada kuntinya kok. Masalahnya....aku kan ga bisa ngelukis *tepok jidat*. Yah, apa sih yang ga mungkin. Coba saja kulukis sebisaku, meski hasilnya tetep kayak pohon buatan anak TK.

Rencananya, kliping amburadul ini mau langsung kuberikan pas Si Kacamata mampir ke Bandung jadi gak perlu aku kirim pake kurir merpati. Deadline semakiiinnn membunuh dan kliping belum jadi. Alih-alih Si Kacamata datangnya diundur seminggu dan fiuuuh berarti masih ada waktu seminggu untuk menuju garis finish tapi......dewi kliping tak berpihak padaku rupanya.

Oke, tinggal menghitung jam, Si Kacamata mau datang dan klipingnya belum jadi dan oonnya lagi, itu kliping yang belom jadi kutinggal di kosan. Pintar. Tapi bukan Ca Ya namanya kalau gak punya rencana licik part 2. Entah bagaimanapun caranya, surprais itu harus sampai ke tangannya on time.

Dan dengan segenap cinta *pret* aku sukses menjilid kliping itu pake jilid ring, bukan jilid solasi ban item udah kayak makalah wkwkkwk. Dengan sampul motif ala Juventus (Si Kacamata itu Juventini) lengkap dengan logo Juve dan nama lengkapnya plus plus origami kemeja hehe. Memang masih ada beberapa lembar kosong tapi bagus juga kan, biar dia aja yang isi.

Lega.

Surprais sederhana itu udah berhasil aku kasih dan udah dia bawa pulang xixixi. Dengan hanya mendengar kalau dia senang saja, itu udah cukup kok. Artinya usahaku gak sia-sia donk, gak sia-sia juga meler-melerin ingus di tengah malem huahahhahhah *puas*. Mogi-mogi itu kliping belum terinfeksi limbah ingus :))

Tentang isi klipingnya. Ummm...emmm...eeehhh....tiap halaman punya cerita sendiri yang diwakili oleh satu atau dua buah foto yang merepresentasikan cerita yang ada di kliping ntu *berat euy bahasanya*. Halaman pertama kutempel Menara Kudus karena kebetulan Si Kacamata itu wong Kudus asli. Semua yang kuceritakan dalam kliping itu murni mengandalkan ingatan dan insting aja hawhaw. Sebenarnya banyaaakkk banget cerita-cerita unik tentangnya tapi memang waktu adalah pembunuh berdarah dingin sih =,=

Sayangnya, surprais itu belum sempat kupoto atau minimal di scan. Ya pegimane atuh jadinya juga beberapa menit sebelum Si Kacamata pulang hahha. Aku udah bak si Ratu Deadline aja heu. Tapi kalau buatan tangan itu emang jadi ada kepuasan tersendiri. Ibarat kayak ngegebukin orang pake tangan sendiri kan puas tuh xoxox.

ini covernya ceritanya hehehehehehe

nah ini poto yang aku gabung-gabungin, print terus gunting deh ahhahahaa :)) abis itu templokin deh suka2 :D
masih ada yang lain siih :D

Hanya sebuah kreasi sederhana, tapi memang lebih banyak makan waktu dan makan cemilan hehe. Tapi aku puas, ya walaupun gak selesai dan sebelumnya pake acara nyari-nyari referensi dulu buat desain dsb, makanya lamaaaa. Hasilnya juga gak seberapa bagus, mudah-mudahan maknanya tersampaikan *wuih*. Padahal gaje gitu isinya >,<

Harapannya, mudah-mudahan tujuan kita tercapai. Apakah itu? ada deh hahahahha :)) moga-moga nanti di tahun akan datang bisa bikin yang lebih bagus dan mudah-mudahan juga bikinnya gak mepet-mepet hari H ekekekekeke....

Terhitung sejak tahun 2007 (atau 2008 ya?) aku sudah melihat Kacamatanya dan hingga saat ini, Kacamatanya masih sama, berbeda dengan seseorang yang Kacamatanya potek terus jadi ganti terus deh. Iya itu aku =,=

Jadi ceritanya Si Kacamata itu adalah sesosok makhluk ajaib yang tanpa sadar selalu dan selaluuuu saja mengisi hari-hari Ca Ya dengan berbagai peristiwa yang terjadi. Terbukti dengan adanya dia di album Ca Ya, baik lama atapun baru. Ya, kini Cah Cilikmu (dulu dia manggil aku begono sih) sudah besar hahahah :D tapi masih jauh lebih pendek euy :((

Anata ga iru kara :)



Yuk Mariii *..*
readmore »»