13 Mar 2015

Fiksi: "S E A"

Aku Sea. Si laut yang keras kepala. Pernah suatu hari, seseorang memukulku secara sembrono dengan kayu tepat di mana otak kiriku bersarang dan tidak apa-apa. Antara keras kepala dan kepala keras musti ada pembeda makna. Kiasan itu yang aku gunakan sebagai isyarat bahwa aku tidak akan goyah meski ada gelombang menerjang. Paling cuma gores saja oleh batok kelapa yang terbawa arus.


Kerjaanku mengamati dan mencari. 



Siapalah aku. Si laut yang tengah terdampar di pegunungan. Mencari tarzan yang siap dijadikan teman. Siapa sangka, monyet setengah zebra yang kudapat. Ya, monyet itu berbadan belang hitam putih seperti zebra. Tidakkah kau pikir itu cuma monyet yang iseng berguling-guling di zebra cross? Ada zebra cross di hutan?

Pengamatanku berlanjut pada satu....emm...dua objek manusia yang tengah mendaki gundukan tanah. Kuamati dengan seksama. Yang satu manusia besar dan satu lagi manusia kecil yang menjadi tas gendong si manusia besar. Lucu sekali. Tak kuanggap mereka beruang karena mereka tidak besar dan berpakaian. Pengamatanku berkembang menjadi maju dan mencari. Mencari tahu siapa mereka. Perlahan aku turun dari istana naga yang kusewa sementara. Kubayar dia dengan ucapan terima kasih.

Kuhampiri mereka, kutatap mereka, si manusia besar balas menatap, sedangkan tas gendongnya tertidur. Tak ada kalimat berarti yang terucap kecuali sapaan klise sejenis "Hai...aku Sea." dan "Kau siapa?" Selanjutnya terserah anda.

Namanya Sun, si Matahari aktif dan tas gendongnya, Light. Tak banyak yang kuketahui dari mereka. Sun bilang padaku bahwa dia suka mengabadikan momen bersejarah antara flora dan fauna. Kulihat Sun menjepretkan kameranya pada sebuah objek, kumbang yang tengah hinggap di batang pohon. Light tetap pada orbitnya, diikat supaya tidak jatuh. Oh iya, kan tas gendong, jadi tak akan jatuh.



Aku melengos pergi sementara Sun masih asik dengan jepretannya (tentu saja masih dalam status menggendong). Aku menerka, Light itu adiknya, atau keponakannya, dan masih terlalu cepat disebut anaknya apalagi cucunya, kalau cicit? Kudaki gunung, kulewati lembah, melihat sungai yang mengalir indah ke samudra, kucari teman bertualang. Monyet-monyet bersorak, burung-burung bersiul protes seolah tahu jika itu adalah soundtrack salah satu film kartun bertema ninja dan aku hanya menyadurnya. Lama aku tidak menjamah televisi.

Aku terperanjak, aku terkesiap, aku melongo, aku cengo, begitu kata anak muda zaman sekarang. Tampak jalan beraspal cap zebra sudah ada di depan mata. Sejauh apa aku berjalan? melamunkan hubungan darah antara Sun dan Light-kah? melamunkan sesosok manusia besar di hadapankukah? Di sinikah si monyet setengah zebra itu lahir?

Tidak tinggi, tidak juga pendek. Tidak kurus, tidak juga terlalu gemuk, bertopi, membawa tas selempang, tidak muda, tidak terlalu tua juga. Standar manusia kota kurang kekinian. Berbeda dengan Sun, manusia besar ini tidak membawa gendongan. Pengamatanku berkembang menjadi maju dan mencari. Mencari tahu sedang apa dia berdiri tegak senyum-senyum di pinggir jalanan. 

Kepolosanku membangkitkan pertanyaan klise seputar 'Hai' atau 'Kau siapa' tak kulakukan karena alasan klise tersebut. Aku melewatinya, memandangnya sekitar 0,75 detik, lalu beranjak pergi. 

"Bang, jangan gerak-gerak, mau difoto!" Kudengar seseorang berteriak memekik tepat di telingaku persis saat aku melewati si manusia besar. Spontan kututup telinga kiriku yang menjadi sasaran kebisingan. Seseorang itu memanggil si manusia besar dengan sebutan 'bang'. Bambang? Gobang? Kelabang? Tak kuhiraukan, aku terus pergi menjauh.



"Oke Gelombang, sip, yuk cabut." Kudengar si manusia besar itu dipanggil dengan nama Gelombang. Dia melewatiku, menatapku sebentar, kutatap dia sekilas, tak ada senyum yang kuberikan padanya dan begitu juga dirinya. Pada akhirnya arah pandangan kami menjadi berlawanan dan jarak antara kami semakin jauh. Aku memberikan senyum pertamaku pada langit terakhir yang kulihat di kota semi metropolitan ini. 

Aku Sea. Si Laut keras kepala. Aku kembali pada alam, naik kembali ke rumah naga. Tertidur lelap dalam hati hampa, menanti sapaan dia yang jauh di sana, di waktu senja, entah siapa.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

was wes wos...^^