13 Mar 2015

Fiksi: "S E A" Part 2 - End

Lihat SEA Part 1 di sini

Telingaku terganggu oleh suara bising untuk ke sekian kalinya. Setelah suara kaleng rombeng teman si Gelombang itu, sekarang model manusia macam apa yang memecah angin sejuk di pagi buta begini. Sudah cukup setelah genk monyet mengusiliku semalaman, si ular melewatiku, si tupai mencapakkanku dan sekarang si manusia menyumbang suara sereosa 8 oktaf pemecah gendang telinga. Dua orang manusia. Ya, dua. Eh, tiga.

Aku Sea. Si Laut keras kepala. 

Kucoba membuka mata lebar-lebar, sekedar mengintip keadaan di bawah sana. Dua anak manusia di pinggir danau Sentani. Danau tempatku menenggelamkan diri di pagi hari, mencari ikan di siang hari, mandi di sore hari dan berlayar di malam hari. Dua anak manusia ini tengah asyik berpose. Berpose adalah suatu kegiatan di mana anda menjadi budak kamera.


Pikiranku buyar. Ini pasti karena jadwal penenggelaman diriku terganggu oleh mereka. Kuamati mereka dengan amat seksama. Si manusia bertudung itu tertawa amat lebar dan si manusia berkulit merah itu ikut tertawa seiring dengan aba-aba dari fotografer mereka. Mataku sayu, sedikit berair. Ada yang berbisik, terakhir kali aku merasakan tawa lebar seperti mereka........sudah lama sekali. Ada cinta di antara mereka dan tak ada cinta yang menghampiriku. Belum.

Pengamatanku berkembang menjadi maju dan mencari. Mencari manusia yang senasib. Kulewati mereka dalam diam. Sekilas aku mendengar mereka saling memanggil, tapi hanya Wind saja yang aku dengar. Anggap saja itu nama si manusia bertudung. Kali ini, aku melangkah tidak di alam bawah sadar seperti kemarin. Kuperhatikan langkah dan arahku sambil terus mengucap asa. Aku bisa berjalan hingga berjam-jam lamanya. Ya, tapi hanya monyet-monyet yang kutemukan. Kali ini, aku ingin bertemu manusia.



Sepakat. Garis-garis wajah yang tak terlihat. Posisi wajah menunduk, tudungnya melambai kecil. Senada dan seirama. Kelak, pertanyaan klise itu akan muncul kembali. Lagi-lagi, pengamatanku berkembang menjadi maju dan mencari.

"Andai air matamu bisa menambah debit isi sungai mungil ini, ya." 
"............"
"Janganlah kau diam membisu. Diammu akan menenggelamkanmu."
"............"

Tak sepatah katapun ia keluarkan. Kutinggalkan ia dan tak kusangka di mengikuti. Kubiarkan gadis kesepian ini mengikutiku. Akan kubawa dia ke puncak bintang, tempat favoritku setelah danau sentani. 

"Rain......" Satu kata terucap dari bibir gadis bertudung itu. Wajahku menengok sembari mengangguk seraya memberikan simpul senyum termanisku, "Aku Sea."

Senyap menghilangkan sosok Rain di tengah perjalanan kami. Hanya pada saat dia memberitahukan namanyalah aku melihat wajahnya dan setelah itu hilang. Langkahku tetap mantap menuju puncak bintang meski sebelah sayapku hilang. Senyumku tetap nampak meski seonggok pertanyaan klise berseliweran di setiap sisi syaraf otakku.

Berdiri di pinggir tebing, kurentangkan kedua tanganku, merasakan hembusan angin menerjang tubuhku, kubiarkan begitu beberapa detik lamanya. Puas merasakan gelombang angin, kupungut sebuah batang pohon kecil cukup panjang. Kupegang batang itu erat, memutar-mutarnya perlahan, melemparnya tinggi-tinggi, kutangkap dengan mantab dengan sebelah tangan. 

Diam dalam diam, rintik hujan jatuh cepat. Pikiran klise kembali terbayang. Membayangkan sebuah potongan klise film hasil muntahan kamera. 


Kupilih Rain menjadi partner tongkatku. Rain, si gadis hujan, tenggelam dalam diam, sejuk karena hujan. Kunantikan kau di rumahku nanti, Rain. 

Kuputuskan untuk kembali pulang. Bukan ke rumah naga karena masa sewaku sudah habis. Aku akan pulang kembali ke nama asliku. Aku Sea, si laut keras kepala akan kembali ke laut. 

Tak kutemukan teman, tidak juga cinta, hanya nama. Sun, si matahari aktif, Gelombang angkuh, Wind, si angin ceria dan.....Rain, si gadis hujan. Aku Sea, si laut keras kepala. 


Pada akhirnya kulukis semua hal tentang kalian yang kutemui secara tak sengaja. Di sini, aku berada berhadapan langsung dengan namaku, Sea. Berhadapan dengan senja aktif yang siap memberikan gelap, gelombang semangat tak kenal lelah menghempas karang sebesar apapun, hembusan angin sore menyapu pasir hingga mengenaiku dan sedikit masuk ke mataku, sampai akhirnya tersapu oleh air hujan.

Kutemukan kalian dalam gelap hati merana di tengah sejuknya himpitan pohon pegunungan. Kutemukan kalian dalam setiap detak nadiku, kutemukan kalian pada fase-fase kritis di mana genk monyet selalu menyertaiku. Terakhir, kutemukan kalian dalam satu bingkai alam yang menyatu sesuai dengan nama kalian masing-masing. Dan namaku. Aku menambahkan diriku dalam lukisanku sebelum aku kembali ke pangkuan namaku.


Aku Sea. Si laut keras kepala.

The End

4 komentar:

  1. Laut keras kepala yg dipecahkan oleh debur ombak

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh iyah,,makasii udah mampir :)

      Hapus
  2. Ah aku memang keras kepala dan tak mau memandang siapa aja, akulah sea si laur keras kepala *nice*

    BalasHapus
    Balasan
    1. wiiww nice jg :D makasi udah mampir :)

      Hapus

was wes wos...^^