2 Mei 2020

The Days of Hera [CERPEN]

Senin “Kambing”
Aku mulai melihat tingkah adikku yang sedikit tidak biasa. Hera, namanya. Hera memasang foto sepasang kambing di figura kesayangannya. Entah apa maksudnya. Aku tetap berdiri di belakang Hera yang sedari tadi menatap sepasang kambing yang ada di figuranya. Hera memalingkan wajahnya dan berkata padaku, “Kak, kemarin aku mengambil foto sepasang kambing lucu ini. Bagus tidak?” tanya Hera dengan senyum simpul di bibirnya.
“Bagus sekali. Kambing milik siapa itu?” tanyaku ingin tahu.
“Milik seorang saudagar, kak. Tapi aku baru dapat kabar, kalau kedua kambing ini telah tiada karena ketidakberadaan nyawa.” aku terdiam dan Hera kembali menatap foto sepasang kambing itu.
Hera pernah bercerita padaku, bahwa ia begitu mengidolakan Albert Einsten.
“Di dunia ini tidak ada gelap, yang ada, hanyalah ketidakberadaan cahaya.”
“Di dunia ini tidak ada kejahatan, yang ada, hanyalah ketidakberadaan Tuhan di hati di manusia.”
Ketika Hera berkata bahwa kedua kambing yang ada di fotonya telah tiada karena ketidakberadaan nyawa, aku langsung teringat akan cerita Hera tentang Albert Einstein itu. Hera tidak menceritakan sebab musabab kedua kambing itu mati. Hera begitu senang dengan kata “ketidakberadaan”. Menurutnya, satu kata itu cukup halus ketimbang harus mengucapkan kata jahat, gelap, mati dan lain-lain.
Hera adalah anak biasa, ia baru kelas 1 SMP, tapi tingkahnya menjadi tidak biasa sejak masuk SMP. Aku berpikir, mungkin ini adalah masa transisi Hera yang akan menginjak masa remaja. Aku tak perlu khawatir akan hal itu. Biarlah Hera menikmati masa-masa remajanya selama itu baik.

Selasa “Boneka Hera”
Lagi-lagi aku melihat Hera duduk sambil menatap sebuah foto yang terpasang di figura kesayangannya. Kali ini, foto apa ya?
Aku tertegun saat mendekati Hera yang tengah menangis. Aku pun bertanya padanya.
“Dek, kenapa menangis?” tanyaku bingung.
“Bonekaku, kak......” Hera tak sempat melanjutkan kata-katanya karena isak tangis yang mengiringinya.
Aku melihat foto di figura itu. Sebuah boneka beruang kecil. Aku tahu boneka itu milik Hera dan seketika, aku melihat isi kamarnya. Boneka beruang kecil itu tidak ada.
“Bonekamu kemana, dek?” tanyaku dengan wajah pias. Boneka itu adalah boneka kesayangan Hera. Aku mulai menebak-nebak, jangan-jangan boneka itu hilang.
“Beriku lenyap tanpa bekas karena ketidakberadaan saksi mata.”
Beri, begitulah Hera memberi nama boneka beruangnya. Aku mengerti apa maksud dari “ketidakberadaan saksi mata”. Sederhana saja, beri hilang dan tak ada yang melihat ataupun tahu akan keberadaan beri, termasuk aku.
Hera terus menangis. Anehnya, Hera tidak berusaha mencari. Hera hanya duduk termenung menangisi foto beri yang ada di atas meja belajarnya. Aku kasihan melihatnya. Aku pun mencari beri ke setiap sudut rumah, menanyakan pada ayah dan ibu, mencari ke rumah teman-teman Hera tapi hasilnya nihil. Tak satu pun orang  tahu dimana keberadaan beri. Aku pulang dengan tangan hampa.
Kakiku melangkah perlahan menuju kamar Hera. Kulihat Hera sedang tertidur pulas sambil memeluk foto beri. Kemarin kambing, sekarang boneka, besok? Aku berharap, Hera bisa segera pulih dari kondisi ketidakberadaan beri. Ah, aku mulai tertular penyakit kronis Hera. Kulihat air mata Hera masih menetes, kuhapus perlahan air matanya dan aku berjalan pelan meninggalkannya dalam lelap.

Rabu “Buku usang”
Kembali aku memandang wajah sendu Hera
Hera tak menangis
Namun sendu begitu jelas tercetak di wajahnya
Matanya tertuju pada sesuatu di hadapannya
Sebuah foto
Foto sebuah buku tanpa sampul
Aku mencoba untuk bisa memahami bahasa tubuh Hera tanpa harus bertanya. Aku tahu Hera tidak sedang menangis. Kali ini foto sebuah buku usang tanpa sampul. Ada apakah dengan buku itu? hilangkah? rusak sudah pasti karena buku itu tanpa sampul. Lalu kenapa Hera begitu sedih? Akhirnya aku kembali bertanya. Bukan bertanya pada ilalang yang bergoyang, tapi pada hera yang mematung.
“Dek, ada apa dengan buku itu?” Aku langsung menuju pada topik permasalahan. Buku usang.
“Sungguh tak bertanggung jawab, orang yang merusak buku ini hingga tak bersampul. Orang itu tak jahat, hanya ketidakberadaan tanggung jawab.” Jelas Hera kembali menyinggung tentang “ketidakberadaan sesuatu”
“Apa itu sangat membuatmu sedih?”
“Sangat.”
Waktu terus bergulir dan ini baru hari Rabu. Kambing, boneka, buku, besok? Tak ada salahnya jika aku mencatatnya di buku harianku. Ini adalah proses transisi adikku, Hera. Hera yang pendiam, mulai banyak bicara. Hera yang pemalu, mulai bisa bertingkah. Hera yang pasif, mulai aktif. Hera yang lincah, kini lebih banyak duduk di kamarnya, mengganti foto di figuranya dengan foto-foto yang tak biasa. Hera menambah daftar pertanyaan di kepalaku.

Kamis “matahari”
“Menurut kakak, bagaimana jadinya jika kita hidup tanpa matahari?”
“Tentu saja kita tak bisa hidup tanpa matahari karena kita butuh matahari. Tanpa matahari dunia ini akan gelap selamanya. Ups, tak ada gelap kan? yang ada hanyalah ketidakberadaan cahaya.”
“Itu kata Albert Einstein, kak.”
Kamis ceria. Hera tak lagi diam dalam tangis, tak membisu tanpa kata, dan tak hilang dalam kesunyian. Kami tertawa bersama, menyatu dalam semangat matahari ketika menyinari bumi. Aku tak lagi khawatir, jika Hera kembali meratapi foto yag ada di atas meja. Hera tetaplah Hera, adikku sayang.
Hera memasang foto gambar matahari buatannya di figura kesayangannya dan kali ini, dipandangi foto itu dengan senyum merekah, tak lagi air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Aku mengajak Hera jalan-jalan di taman. Hera suka sekali melihat kembang mekar. Kebetulan, kembang-kembang di taman sedang mekar dengan indahnya. Ini kesempatan bagi Hera untuk bisa mengabadikan kembang-kembang indah dalam jepretan kameranya. Barangkali, esok, Hera akan memajang foto hasil jepretannya di figuranya. Aku tersenyum simpul.

Jumat “Kamera”
Malam kelabu. Kamar Hera gelap gulita. Ayah dan ibu sedang berkunjung ke sanak saudara di luar kota, praktis hanya ada aku dan Hera, adikku. Kubuka pintu kamar Hera dan kulihat Hera sedang duduk di kursi seraya memandangi sesuatu yang ia genggam erat. Aku mendekat, ingin tahu, apa yang dipandanginya.
Walau gelap, aku masih bisa melihat foto apa yang Hera lihat karena ada sedikit cahaya dari luar. Sebuah foto “gelap”. Kusebut gelap karena memang tak ada gambar apapun di dalam foto itu kecuali warna hitam.
“Dek, kenapa hanya gelap di foto itu?” tanyaku heran.
“Hanya karena ketidakberadaan cahaya, kak.”
Aku terdiam sejenak. Mencoba mencerna kembali apa yang dikatakan Hera, meski Hera sudah sering mengatakan hal serupa. Aku terus berpikir, ada apa sebenarnya. Baru saja kemarin, Hera tertawa bersamaku, kini Hera kembali menjadi misterius. Pelan-pelan, aku bertanya pada Hera.
“Dek, di mana kameramu?”
Hera terdiam sejenak, kemudian menjawab perlahan, “Kameraku hilang karena ketidakberadaan uang.”
PLAK!!!
Tanpa sadar, tanganku mendarat keras di pipi Hera, adikku. Hera terdiam tanpa mengaduh.
“APA KAU TAHU BERAPA HARGA KAMERA  ITU?? DAN APA KAU TAHU BAGAIMANA SUSAHNYA AKU MENGUMPULKAN UANG UNTUK MEMBELIKANMU KAMERA ITU??” Aku begitu marah. Tak tahu lagi harus berkata apa. Aku keluar dari kamar Hera, meninggalkannya dalam gelap kesunyian. Kamera itu khusus kubelikan untuk Hera yang suka sekali memotret. Kukumpulkan uang untuk membeli kamera itu dan sekarang kamera itu hilang.

Sabtu “Surat”
Aku membuka pintu kamar Hera perlahan. Kulihat Hera masih tertidur lelap. Kulihat pula bingkai foto kesayangannya yang dalam posisi terbalik. Aku sudah enggan untuk melihat foto yang ada di bingkai itu. Rasa kesal masih menyeruak di dadaku. Aku kembali menutup pintu kamarnya dan segera keluar dari rumah, sekedar mencari ketenangan.
Aku pergi mengunjungi rumah teman di luar kota. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan Hera, tapi ini kulakukan untuk menghilangkan rasa kesalku pada Hera. Hanya karena sebuah kamera. Apakah aku jahat?
Aku mencoba tenang dan perlahan memikirkan semuanya. Aku sadar, aku salah. Tak seharusnya aku menampar Hera. Dia adikku, aku harus selalu sayang padanya. Aku malah lebih memilih kamera ketimbang Hera. Bodoh sekali! Aku menyesal. Maafkan aku, dek Hera. Ini karena ketidakberadaan hati.
Aku menulis sepucuk surat untuk Hera. Kutulis rapi di kertas surat lucu berwarna biru. Aku juga mengabadikan surat ini dalam sebuah kamera handphone-ku. Kelak, mungkin Hera akan memajangnya di figura kesayangannya. Aku datang, dek.

Minggu “..............”
Antara ketidakberadaan nyawa sampai ketidakberadaan hati. Dua hal yang saling berkaitan. Aku yang semula tak memiliki hati hingga tega menampar sang adik hanya karena sebuah kamera, kini harus menerima kenyataan pahit yang harus kutelan sendiri. Hera meninggal dunia dengan tenang, Sabtu kemarin. Tubuhku bagai terkena bom, hatiku hancur seketika, pikiranku melayang, kembali memutar memori kala aku menampar hera, tanganku bergetar, bibirku turut bergetar, ingin mengucap sesuatu, namun aku telah kehabisan kata. Tak lagi kusuruh air mataku untuk keluar, air mata penyesalan ini telah deras mengalir. Kakiku dengan cepat berlari masuk ke rumah dan melihat sesosok tubuh tertutup selimut. Aku mendekat, kian mendekat, hingga aku bisa melihat wajahnya.
Hera tak lagi bisa membuka matanya. Kugoyang-goyangkan badannya, tapi Hera tak bergeming. Kukutuk diriku sendiri saat ini juga. Ibu memberikan sebuah kotak kecil padaku. Kubuka kotak itu perlahan. Saat itu juga, air mataku kian deras mengalir.
Sebuah foto dalam bingkai beserta surat. Foto aku dan Hera. Aku hanya bisa berteriak memanggil-manggil nama Hera.
Hera tiada karena ketidakberadaan nyawa.

-SELESAI-

Note: Cerpen ini ada di Buku Antologi Cerpen "Life Puzzle" yang diterbitkan secara Indie oleh nulisbuku.com



1 komentar:

  1. Numpang promo ya Admin^^
    ayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
    dengan minimal deposit hanya 20.000 rupiah :)
    Kami Juga Menerima Deposit Via Pulsa & E-Money
    - Telkomsel
    - XL axiata
    - OVO
    - DANA
    segera DAFTAR di WWW.IONPK.ME (k)
    add Whatshapp : +85515373217 x-)

    BalasHapus

was wes wos...^^

Welcome Home Anta!

Cek cerita hilangnya Anta DI SINI Sekitar 2 minggu yang lalu, di malam Jumat yang syahdu, notifikasi HP berdering berkali-kali. Si pecint...