6 Mei 2020

Neira yang Kutakuti [CERPEN]

Sorot matanya begitu tajam. Tak henti-hentinya ia menatapku dengan tatapan sinis, namun kosong. Aku berdiri tepat dihadapannya. Sebuah dinding dengan sedikit celah berjeruji besi menjadi pembatas dunia kami. Dunianya dan duniaku. Tubuhku gemetar, perasaan takut dan cemas menjadi satu. Satu-satunya yang membuatku takut, hanyalah sorot matanya. Aku mundur perlahan, menjauh dari pintu besi berwarna putih itu. Bahkan saat aku sudah menjauh pun, aku masih bisa melihat matanya yang terlihat merah menyala bagaikan serigala yang tengah melihat mangsanya.
 “Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali.” Seorang perawat menghampiriku yang masih terpaku, tak jauh dari pintu besi itu.
“Ah, tidak apa-apa, sus.” Kataku pelan. Aku pun melewati suster itu dan beranjak keluar.
***
Aku berjalan pelan meninggalkan RSJ (Rumah Sakit Jiwa) kembang Mekar, menyusuri jalan raya yang ramai oleh kendaraan bermotor. Aku melihat sebuah poster film horor yang sedang tayang, berjudul “Dia Ada di Depanmu”. Bulu kudukku bergidik, tubuhku kembali gemetar, dan pikiranku kembali pada sorot mata gadis remaja yang terkurung dalam ruangan isolasi besi itu.Gadis itu seolah ada di hadapanku.
Aku pun berlari sekuat tenaga. Rasa takut menyelimuti hatiku. Aku ingin segera sampai ke rumah dan berlindung di bawah selimut.
“Rei!!” Elsa, sepupuku berteriak memanggilku yang lari terbirit-birit menuju kamarku.
“Kamu kenapa? Seperti habis dikejar anjing saja.” Elsa menghampiriku dan duduk di tempat tidurku, tepat di sampingku.
“Neira itu setan!!” kataku histeris.
“Maksudmu apa?? Dia itu adikmu!” bantah Elsa mencoba menerka pernyataanku.
“Pokoknya, aku nggak mau datang ke sana lagi titik!” bentakku kesal.
***
Reina. Itu namaku. Bisa dibilang, aku anak sebatang kara. Orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis di sebuah hutan saat kami berlibur ke Swiss. Neira adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Neira adalah adik yang sangat kusayangi. Ya, awalnya seperti itu. Sampai akhirnya peristiwa tragis itu terjadi.
***
Aku duduk termenung memandangi layar hitam laptopku. Kutekan tombol power laptop dan warna kelam laptopku berubah menjadi cahaya berwarna yang sekaligus mengubah sedikit warna hatiku.  Perasaan takut masih menyelimutiku sejak aku menjenguk Neira, adikku. Aku tak menganggap Neira gila. Aku tahu, Neira depresi.
Aku mulai membuka browser dan mengetikkan sesuatu di halaman search engine. Muncul banyak berita yang berkaitan dengan apa yang kuketikkan di kolom pencarian. Aku meng-klik salah satu berita dan betapa terkejutnya aku saat melihat apa yang baru saja tampil di depan mataku.
Foto-foto tragis saat kecelakaan di hutan Swiss tergambar jelas di situs tersebut. Darah berceceran, terlihat pula beberapa potongan tubuh yang tercabik oleh sesuatu yang ganas. Otakku tak lagi menangkap apapun selain gambar mengerikan tersebut, sampai pada gambar terakhir yang kulihat. Wajah penuh darah dengan ekspresi yang sungguh tak pernah kubayangkan dan tak ingin kulihat sebelumnya.
“TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!!”
Mungkin teriakanku mampu memecahkan jendela kamarku. Aku berlari keluar kamar dengan keringat dingin mengucur deras dari seluruh tubuhku. Sungguh aku tak sanggup berkata-kata. Semua yang terjadi hari ini, sungguh mengganggu pikiranku. Aku menghampiri Elsa yang sudah ada di hadapanku karena mendengar teriakanku, aku pun langsung memeluknya dengan tubuhku yang masih gemetaran.
“Rei! Kau kenapa?” Elsa ikut panik melihat kondisiku yang sangat mengkhawatirkan.
Belum sempat aku menjawab, tubuhku serasa melayang dan akhirnya jatuh bebas di pelukan Elsa.
“REEEI!!”
***
Aku membuka mata secara perlahan. Bau khas rumah sakit begitu jelas tercium lewat hidungku. Selang infus telah tertancap di pergelangan tanganku. Aku melihat sekeliling ruangan. Serba putih. Mataku belum begitu jelas menangkap semua yang ada di ruangan. Namun, mataku terbelalak ketika melihat sorotan mata yang begitu kukenal di luar jendela. Secara reflek, aku mencoba bangun dengan tenaga yang ada. Saking paniknya, aku pun terjatuh dari tempat tidur.
“Toloooooong...” teriakku gemetar.
Seseorang membuka pintu. Elsa kaget melihatku tengah terbaring di lantai dengan wajah ketakutan.
“Rei! Ada apa??” Elsa membantuku bangun dan kembali berbaring di tempat tidur. Aku masih sangat ketakutan dan terus melihat ke arah jendela. Bayangan menakutkan itu sudah tak ada, yang ada hanyalah lambaian tirai jendela.
“A, aku melihat setan itu, kak.” Rasanya mulutku sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
“Setan apa??”
“Neira!!”
“Apa maksudmu?? Neira itu sedang di rumah sakit! jangan ngaco kamu!”
“Itu rumah sakit setan! Bukan rumah sakit jiwa!”
Elsa memandangku dengan penuh rasa heran. Elsa keluar dari kamarku, lalu kembali bersama suster yang kemudian memberiku obat. Tak lama kemudian, aku tertidur.
***
“Kak Rei, apa hutan ini aman? Yakin, tak ada binatang buas?”
“Aman kok, Nei. Tenang saja.”
“Kak, ayo kembali ke tempat papa mama. Perasaanku tak enak.”
“Kamu tenang saja, sebentar lagi, kita dapat ikan, nih!”
Beberapa saat kemudian, terdengar teriakan dari kejauhan.
“AAAAAAAAAAAHHHHHH!!!!”
“PAPA!!MAMA!!”
***
“PAPAAA..MAMAAA..!!!”
Aku terbangun dari tidur panjangku karena pengaruh obat bius yang diberikan suster padaku. Mimpi buruk itu kembali.
“REI..!” Elsa mencoba mengguncang-guncangkan pundakku. “Kamu mimpi buruk?”
Aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk bisa berpikir secara normal. Namun, mataku langsung menangkap sosok yang telah kuanggap setan. Neira. Aku melihatnya tengah menatapku dengan sorot matanya yang begitu tajam, seakan penuh dendam. Kulihat Neira berdiri di sudut ruangan dengan........sungguh aku ingin sekali menangis kala melihat kondisinya dan tak sanggup berkata-kata. Wajah penuh darah dengan tangan tercabik hingga putus.
“TIDAAAKKK...KELUAARR KAAUUU!!” Aku berteriak sekeras mungkin sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tubuhku kian gemetar karena munculnya sosok itu.
“REI!! Kau ini kenapa?? Sadarlah!” Elsa menahan kedua lenganku yang terus gemetar. Sementara keringat dingin pun mengucur dari tubuhku.
“Setan itu ada di sana! Neira ada di sana!” Aku menunjuk sudut ruangan, tepat di belakang Elsa. Elsa pun menengok ke belakang dan ternyata tidak ada apapun kecuali meja dengan vas bunga di atasnya.
“Kau pasti sedang berhalusinasi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Lagipula, Neira juga ada di rumah sakit. Tak mungkin dia di sini. Sebaiknya kau istirahat.” Elsa menidurkanku dan mennutup tubuhku dengan selimut putih.
“Neira pasti dendam padaku. Gara-gara aku, papa mama meninggal secara tragis. Itu semua salahku.” Aku mencoba bersikap tenang, meskipun batinku berteriak memaki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku yang tak pernah bisa membaca situasi.
“Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Neira sama sekali tak dendam padamu. Neira memang belum bisa menerima semua ini. Bersabarlah.”
***
Aku dirawat di rumah sakit selama seminggu. Kondisiku selalu naik turun. Selama seminggu pula, Neira selalu datang. Entah itu hanya halusinasiku saja atau memang arwah Neira yang gentayangan. Tunggu. Neira, kan, belum mati. Aku tak mengerti, apa yang terjadi padaku. Neira itu adikku. Tak sepantasnya kusebut dia setan. Tapi, aku lelah. Bayangan Neira selalu mengikutiku. Bayangan mengerikan itu selalu menghantuiku. Aku harus bagaimana.
Kedatangan Elsa membuyarkan lamunanku.
“Rei, aku mau ke rumah sakit dulu. Kamu mau ikut?” ajak Elsa yang sudah siap sedia, hendak pergi ke rumah sakit.
“Tidak.” Jawabku singkat. Aku tahu bahwa kehadiranku tak akan membuat Neira membaik.
Elsa mengangguk pelan, tandanya, ia mengerti akan keputusanku. Akan lebih baik, jika aku diam di rumah, mencoba memahami perasaanku dan juga perasaan Neira.
Aku melihat Elsa keluar rumah dan kini aku sendiri, meratapi nasib burukku karena dibayang-bayangi rasa bersalah. Aku tahu, aku salah. Saat itu, aku yang mengajak  Papa, Mama, dan juga Neira untuk berlibur ke Swiss. Aku juga yang mengajak mereka untuk camping di hutan Swiss. Aku juga yang mengajak Neira memancing ikan dan meninggalkan Papa dan Mama. Padahal, aku tahu, ada beberapa kejadian tentang seseorang yang diserang binatang buas. Dan bodohnya, aku tak peduli. Aku merasa situasi aman dan tak mungkin ada binatang buas.
Kebodohanku terbukti saat mendengar teriakan Mama. Aku dan Neira berlari menghampiri sumber teriakan itu. Betapa terkejutnya aku, Papa diserang seekor beruang.
DUK DUK DUK
Hentakan kaki yang begitu cepat itu membuyarkan lamunanku.
“REEEEEEII....!!!”
Elsa berteriak memanggilku. Dalam beberapa detik, Elsa sudah ada di hadapanku. Elsa terlihat begitu gelisah, tampak dari wajahnya yang penuh keringat dan raut wajahnya yang menunjukkan kesedihan yang begitu dalam. Ah, aku sok tahu.
“Ada apa?” tanyaku datar.
“Neiraa...” Elsa memotong kalimatnya sembari mengatur nafasnya.
“Ada apa dengan Neira?”
“Neira Meninggal!!!”
***
“Waktu aku datang ke rumah sakit, para suster dan dokter berkumpul di ruangan isolasi, tempat Neira dirawat. Aku pun segera melihat apa yang terjadi di sana. Betapa kagetnya aku melihat Neira terkapar bersimbah darah dengan perban di tangannya yang sudah terbuka. Lalu......”
“CUKUP!!” aku memotong kalimat Elsa. Aku tak mau dengar. Aku juga tak mau Elsa melanjutkan kalimat-kalimat mengerikan itu.
Aku terduduk lemas di depan pusara Neira, adikku. Air mataku mengalir perlahan, kesedihanku semakin memuncak kala melihat kembali makam Papa dan Mama. Kini mereka telah bersama kembali. Mengapa aku ditinggal sendiri? Mengapa kalian meninggalkanku sendiri? Batinku berteriak. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak kuasa menahan derita ini seorang diri.
Elsa mencoba menenangkanku. Elsa memelukku erat. Aku tak bisa berkata-kata. Hanya air matalah yang bisa kukeluarkan. Baru beberapa bulan, aku kehilangan orang tua. Sekarang aku kehilangan saudara kandungku satu-satunya.
***
“Sudah kubilang, bayangan mengerikan yang selalu datang menghantuiku itu benar-benar Neira!” kataku meyakinkan Elsa. Selama ini, Elsa hanya mengira aku berhalusinasi atau terlalu menyalahkan diri sendiri.
“Entahlah.” Tanggap Elsa singkat.
Aku dan Elsa terdiam sejenak. Kami diam dalam dunia kami masing-masing. Aku beranjak dari kursi, lalu keluar kamar untuk sekedar mencari udara segar. Kepalaku penuh dengan bayangan Neira. Aku berpikir, Neira masih dendam padaku, dan aku pun belum sempat berkata apa pun sampai Neira meninggal.
Aku duduk di bangku taman. Tak ada seorang pun di taman itu kecuali aku. Taman itu terlihat tak terurus. Beberapa tanaman mati dan kebanyakan tak terawat. Aku memejamkan mata sejenak, memikirkan apa yang selama ini terjadi.
Beberapa saat, aku merasakan angin berhembus lebih kencang. Aku membuka mata perlahan dan aku melihat tanaman di sekelilingku tersapu angin. Sampah-sampah beterbangan, pohon-pohon seakan nyaris tercabut.
“Ada apa ini?” tanyaku panik. Aku pun merasa sulit bergerak karena kencangnya angin.
Tiba-tiba, aku melihat seseorang berdiri di ujung taman. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Aku berusaha untuk melihat, siapa gerangan orang yang ada di hadapanku ini. Samar-samar, aku mulai bisa melihatnya. Dan aku pun terkejut. Dia memakai pakaian yang sobek di sana-sini, rambut panjang terurai, dan.....tangannya buntung.
“Ne, Neira?” aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa yang kulihat itu adalah Neira, adikku.
“Neira? Apa itu kau?” tanyaku pada sosok di depanku yang tetap berdiri tegap.
Sosok itu pun menghilang. Aku berusaha mencari. Aku mengelilingi taman, melihat sekeliling sambil tetap berusaha melawan angin. Namun, beberapa saat kemudian, angin pun kembali seperti semula.
“Pembunuh!”
Suara itu kudengar dengan sangat jelas. Satu kata, “pembunuh”, begitu jelas menancap di telingaku. Sakit sekali rasanya.
“Aku bukan pembunuh! Neira! Dengarkan aku!” aku memanggilnya, ingin bicara dengannya.
“Kau yang membunuh papa dan mama, dan kau juga yang membunuhku. Kau membuatku kehilangan tangan!” suara gaib itu semakin jelas terdengar.
Tubuhku gemetaran, bibirku kelu, tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba, sosok Neira muncul tepat di hadapanku dengan kondisi yang sungguh menyedihkan. Aku melihat dengan jelas, perban di tangan kanannya terbuka dengan darah menetes. Aku tidak tahu harus bilang apa, entah tangan atau bekas tangan karena memang tangan kanannya sudah tak ada.
Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.
***
Aku berdiri di pinggir danau yang berada di tengah hutan. Ya, aku berada di tengah hutan Swiss, tempat kejadian perkara. Perkara terbunuhnya orang tuaku dan terlukanya adikku oleh seekor beruang. Lalu, untuk apa aku ke sini?
Air mataku mengalir. Aku merasa sendiri. Menanggung seluruh beban ini seorang diri. Beberapa saat, aku terus larut dalam kesedihan. Memandang aliran sungai yang tak terlalu deras dengan ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari. Aku melihat wajahku yang terpantul di sungai. Menyedihkan.
Air mataku berhenti mengalir dan raut wajahku berubah setelah melihat bayangan besar yang ada dibelakangku, yang terlihat dari air sungai. Sontak, aku menengok ke belakang dan rasanya, jantungku nyaris lepas. Seekor beruang besar berdiri di hadapanku dengan gigi-giginya yang tajam, siap menerkam apa saja yang ada di depannya, termasuk aku. Tubuhku kaku, tak berani melangkah mundur, apalagi maju. Aku berpikir, inilah saatnya aku melunasi hutangku. Hutang kematian papa, mama dan juga Neira. Tapi....
Kakiku melangkah mundur secara otomatis. Aku takut. Beruang itu pasti sudah sangat siap untuk menjadikanku makan malam. Sosok makhluk lain pun muncul. Neira kembali dan tepat berada di belakang beruang itu. Entah aku harus takut atau senang. Aku pun tak tahu, Neira akan berbuat apa. Menolongku atau sebaliknya.
Beruang itu berbalik, seolah Neira memanggilnya. Neira menatapku dengan tatapan yang begitu tajam, kemudian Neira menatap beruang itu. Aku berpikir, Neira sedang berbicara dengan si beruang. Entah apa yang terjadi, tapi beruang itu pergi. Sulit dipercaya!
Neira kembali menatapku. Kali ini bukan tatapan tajam, tapi jauh lebih lembut. Dua bayangan muncul di balik pepohonan rindang. Dan aku sangat mengenal sosok itu.
“Papa, Mama.” Kataku dengan suara bergetar.
Papa, Mama dan Neira yang mengenakan pakaian serba putih, menatapku sambil tersenyum. Mereka tak bicara apa pun, tapi aku mendengar suara mereka.
“Reina, anakku. Teruslah hidup untuk kami.” Papa tersenyum padaku.
“Reina, anakku. Jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri.” kata mama padaku.
“Aku sudah tak marah lagi padamu, kak.” Neira pun akhirnya memberikan senyum pertamanya sejak peristiwa itu.
Dan bayangan mereka pun hilang. Aku berlutut dan mengeluarkan segala emosiku yang tertahan.
“AKU INGIN IKUT KALIAAAAAAAANN!!!”

SELESAI



4 Mei 2020

PANCA INDRA AZURA [CERPEN]

“Azura Rosi Chavi”
Begitulah ketika seorang cewek kulit putih, rambut panjang diikat satu ke belakang, blesteran Indo-Inggris menuliskan namanya di papan tulis. SMA Kartika menjadi sekolah barunya di Indonesia setelah menghabiskan masa kecilnya di Inggris. Dia tak bicara apapun setelah menuliskan namanya, ia langsung duduk di bangku kosong, di sebelah Arina, cewek asli Indonesia, berambut sebahu dan matanya agak sipit.
SMA Kartika termasuk salah satu sekolah swasta elit di Bandung dan bisa dipastikan bahwa penghuni sekolah ini bukan dari kalangan orang biasa, tapi LUAR BIASA, dalam arti kantongnya tebel dan otaknya juga terisi. Sekolah elit ini memiliki sistem pembelajaran yang sudah berbasis multimedia sehingga makin tampak berkelas. Setiap siswa tak lagi memakai buku, tapi diberikan jatah satu netbook sebagai alat penunjang belajar. Papan tulis pun hanya sebagai hiasan semata, kurang lengkap kalau kelas tanpa adanya papan tulis dan jangan ditanya biaya SPPnya, MAHAL!.
Saat istirahat hampir semua murid mengunjungi kantin Kartika, tempatnya nyaman dan menunya pun gak kalah dengan menu restoran, jangan ditanya juga soal harga. Di dalam kelas hanya ada Arina dan Azura yang tetap duduk manis.
“My name is Arina, and you?” Sapa Arina seraya memberikan tangannya ingin bersalaman. Arina mengira Azura tak  bisa bahasa Indonesia karena dia lahir dan besar di Inggris.
Azura tetap diam sambil terus mengetik. Sepertinya ia mengetikkan sesuatu di netbook-nya untuk Arina.
Bukankah aku sudah menuliskan namaku di papan tulis. Kamu buta ya??
Tulisan di netbook Azura sontak membuat Arina kaget dan serba salah karena sudah menanyakan namanya. Ia hanya ingin mendengar suaranya karena sejak dia datang, dia tak sedikit pun mengeluarkan suaranya.
“Ng..maaf, kalau begitu aku ke kantin ya. Nice to meet you.” Arina beranjak sambil melambaikan tangan tapi Azura tetap diam membisu sambil terus mengetik-ngetik sesuatu di netbook-nya.
Benarkah mata untuk melihat dan mulut untuk berbicara?
Apa yang seharusnya dilihat oleh mata dan dikatakan oleh mulut?
Kenapa aku hanya melihat dan mengatakan kebohongan?   -Azura-
Azura terus-terusan menatap layar netbook-nya dengan sangat serius sambil sesekali menampakan kesedihan di wajahnya. Waktu istirahat pun habis dan Azura masih setia duduk manis hingga semua teman-temannya datang. Sang guru pun masuk kelas dengan membawa buku-buku tebal dan pelajaran Biologi pun dimulai.
“Tolong jelaskan apa yang kalian tahu tentang Panca Indra?” Tanya Bu Reina, guru Biologi lulusan UGM. Ibu Reina memang sering mengajukan pertanyaan sederhana di awal pelajaran, katanya untuk pemanasan. Hampir semua murid mengacungkan tangan, tapi sepertinya Ibu Reina tertarik untuk menunjuk seseorang yang sedari tadi asik dengan netbook-nya.
“Azura Rosi Chavi!” Panggil Ibu Reina yang sudah mengetahui tentang anak baru di kelas ini. “Stand up please...and...what do you think about the five senses?” Ibu Reina mengajukan pertanyaan, tanpa tahu kalau Azura bisa berbahasa Indonesia. Mungkin nama dan orangnya yang tak terlihat seperti orang Indonesia, jadi tanpa sadar Ibu Reina mengajaknya berbicara dalam Bahasa Inggris.
Azura langsung berdiri tapi tak langsung menjawab pertanyaan Ibu Reina, dia maju ke depan kelas, mendekati laptop yang ada di atas meja guru dan mulai mengetik-ngetik sesuatu. Azura membuka notepad dan mulai mengetikkan satu kalimat. Apa yang diketik Azura dapat dilihat pada layar LCD karena laptop guru sudah tersambung ke LCD. Semua murid termasuk Ibu Reina hanya bisa bengong tanpa kata dan penasaran apa yang akan diketikkan oleh Azura.
Panca indra, khususnya MATA dan LIDAH, cuma bisa menghasilkan KEBOHONGAN saja!!!
Satu kalimat! Cukup membuat semua terdiam tanpa kata, tanpa ucapan, tanpa sanggahan, bahkan Ibu Reina masih menatap satu kalimat itu dengan seksama, sementara murid lain memandangi Azura yang langsung kembali ke tempat duduknya dengan pandangan aneh bin ajaib. Setelah duduk, Azura kembali ke rutinitas awalnya, berkutat dengan netbook kesayangannya. Azura tidak menerima jatah netbook dari sekolah, dia memilih membawa sendiri netbook-nya. Kembali ia serius menatapi layar netbook-nya dan sibuk mengetik dengan terus menampakkan wajah inocent-nya. Teman-temannya pun baru tahu kalau Azura bisa Bahasa Indonesia.
Satu kejadian unik di kelas 1-A, cukup mudah untuk menjadi unik di seluruh kelas. Tiga puluh mulut kelas 1-A akan mudah menyebarkan isu ataupun gosip ke seluruh pelosok sekolah, termasuk kantin bahkan toilet. Nama Azura pun melejit bak selebritis dadakan yang akhir-akhir ini banyak muncul di TV gara-gara video lipsink di Youtube. Azura tetap cuek dan masa bodo, dia tetap meluruskan pandangan pada satu titik di layar benda kesayangannya. Arina dan teman-teman sekelasnya sempat penasaran dengan makhluk unik ini.
“Hei Azura!” Panggil Neva, teman sekelas Azura. “Dikirain cuma bisa Bahasa Inggris, gak taunya bisa bahasa Indo juga to?ngomong atuh dari tadi.” Kata Neva dengan logat sunda khasnya. Azura tetap diam membisu, membuat Neva agak geram. “HEI! Aku gak lagi ngomong ama patung kan??” Gertak Neva, Azura masih tetap anteng. “Tunggu...tunggu...jangan-jangan.....” Neva berpikir sejenak. “Dia ini bisu!!” Terka Neva sambil melirik ke arah Azura. “Iya gak sih? Sejak dia masuk kelas pertama kali, dia emang gak pernah buka suara seucrit pun kan?brati dia bi-su!” Celoteh Neva. Arina sempat kesal, rasanya tak perlu berkata seperti itu di depan teman-teman sekelas.
Azura hanya menatap Neva beberapa detik, setelah itu kembali mengutak-ngatik “si kecil” yang selalu nempel di atas meja. Neva makin geram tapi tak berniat melanjutkan ocehannya, Neva berpikir kalau Azura memang bisu dan tak berniat mengajaknya ngobrol lagi, ia melengos meninggalkan Azura dan pergi bersama teman-teman satu gengnya. Neva memang memiliki pribadi judes dan sangat pilih-pilih teman.
Azura tak selalu lengket dengan netbook-nya. Sesekali dia berjalan ke luar kelas, tentu saja setelah menyimpan netbook-nya di loker lalu menguncinya agar tak ada tangan jahil yang menyentuh “si kecil”. Namun, Azura bukan keluar kelas untuk makan atau paling tidak ke toilet, dia hanya berdiri dan bersandar di dinding kelas atau melihat suasana ramai sekolah saat istirahat. Arina suka mengikutinya diam-diam, ingin tahu atau lebih tepatnya penasaran. Hasilnya, Arina hanya melihatnya sering berdiri dengan tatapan kosong, seperti orang bingung atau nyaris kesurupan! Setiap hari, Arina menyempatkan diri menguntit Azura yang makin sering keluar, biasanya dia tak pernah keluar kelas dan selalu nempel dengan “si kecil”. Beberapa kali wajah Arina terlihat bingung atau kaget melihat tingkah Azura.
***
Pelajaran Matematika..
Ibu Santi menuliskan satu soal Matematika di papan tulis. Rupanya papan tulisnya masih berguna, gak cuma sebagai hiasan.Soalnya cuma satu dan sangat singkat tapi cukup membuat tiga puluh pasang mata sontak melotot, bingung, soal apa itu? Ibu Santi memang sangat terkenal dengan soal singkat mematikan buatannya.Ibu Santi memberikan sebuah soal tantangan, jika ada yang bisa menjawab soal singkat ini dengan benar, maka dia tak perlu ikut ulangan harian atau ujian semester. Hadiah yang ditawarkan memang sangat menggiurkan tapi memang sangat sebanding dengan soal yang ditawarkan. Semua siswa sibuk kasak kusuk dengan teman sebelah atau teman di belakangnya. Hanya selang beberapa detik dan di tengah kasak kusuk siswa berdikusi tentang soal tantangan itu, Azura dengan santainya maju dan mengambil spidol lalu sibuk menuliskan angka-angka gak jelas di papan tulis. Semua murid bengong tak percaya, tapi Ibu Santi serius menatap jawaban yang dituliskan Azura tanpa berkata sepatah kata pun.
Kurang dari lima menit, Azura selesai menuliskan jawaban dari soal tantangan itu. Sontak semua terperangah ketika Ibu Santi mengangguk pelan sambil tersenyum setelah melihat dengan seksama jawaban Azura. “Bagus Azura, nilai Matematikamu A!” Kata Ibu Santi tegas dan pasti. Satu huruf, “A”, telah membuat semua murid kelas 1-A kaget plus iri berat dengan Azura. Neva, memasang tampang geram dan pastinya menyimpan dendam, tapi sebenarnya apa salah Azura ya?
“Gue gak akan ngebahas soal sifat sok pinter lo itu!” Neva mulai ngebentak Azura tanpa ampun. “Gue cuma mau lo ngomong barang satuuu huruf aja!” Pinta Neva aneh. “BISA GAK???” Neva mulai meninggikan suaranya. Azura tetap santai sambil menuliskan sesuatu di selembar kertas kuarto lalu diperlihatkan pada Neva.
Mata Neva terbelalak ketika melihat isi dari kertas kuarto yang diperlihatkan oleh Azura. Hanya tertulis satu huruf, “A”, yang ditulisnya dengan ukuran hampir memenuhi kertas. Emosi Neva memuncak melihat tingkah Azura yang dianggapnya meremehkan dirinya.
“HEH!!GUE BUKAN NYURUH LO NULIS!TAPI NGOOOMONG!!BENERAN BISU YA LO??!!” Teriak Neva marah, terlihat dari wajah putihya yang berubah jadi merah. Azura sama sekali tak bergeming, sementara yang lain malah cengar-cengir karena ulah Azura yang udah jelas-jelas bakal bikin Neva turun derajat! Kali ini Arina turun tangan.
“Neva!Udah!!” Lerai Arina sembari melototin Neva. “Kamu gak bisa seenaknya ngomong begitu ke Azura! Azura punya HAK untuk ngomong atau nggak!Yang penting dia gak bikin ulah disini, lagipula dia emang pinter dan itu gak dibuat-buat atau sok!” Bela Arina dengan mata penuh permusuhan, dia tidak terima teman sebangkunya dipermalukan. Tapi untuk kali ini, Nevalah yang sudah dipermalukan karena ulanya sendiri.
Neva tidak membalas ucapan Arina dan pergi meninggalkan mereka beserta antek-anteknya. Azura sempat melirik Arina dengan tatapan heran. Dia mengira kalau teman sebangkunya ini kalem, adem ayem, kayak ayam mau betelor. Gak disangka-sangka, dia bisa membela Azura dan membalas kata-kata pedas Neva tanpa takut-takut, tapi gak ada yang tahu kalau di hatinya sebenarnya sangat takut.
***
Pelajaran Bahasa Inggris....
Bapak Ronald, guru Bahasa Inggris berdarah Australia, lulusan Oxford. Pak Ronald begitu disukai murid-muridnya hanya karena satu kata, “darling” dan juga wajah gantengnya. Pak Ronald sering menyebut murid-muridnya dengan sebutan “darling”, tentu saja membuat para murid putri serasa melayang di atas awan, jangan ditanya kalau murid cowoknya, asli merinding! Siang ini, Pak Ronald hendak memulai pelajaran dengan bercerita panjang lebar, tentu saja dengan Bahasa Inggris, setelah itu, baru dimulai ke pelajaran inti.
Belum sempat Pak Ronald berkata sepatah kata untuk memulai pelajaran, tiba-tiba Azura maju ke depan, berhenti di depan Pak Ronald lalu membungkukkan sedikit badannya tanda berpamitan, namun tanpa kata, dengan santai, Azura keluar kelas. Para murid hanya mematung, diam, heran, gak ngerti! Pak Ronald pun tak sempat berkata karena Azura langsung melengos keluar tanpa kata pula! Dengan sigap, Arina berdiri.
“Maaf pak, saya rasa Azura punya alasan khusus, saya yakin dia tak perlu lagi belajar Bahasa Inggris.” Jelas Arina yang bermaksud membela Azura.
“Saya mengerti dan mencoba menerima pembelaanmu Miss.Arina tapi...” Pak Ronald siaga 45. “Walaupun Azura itu asli Inggris, bukan berarti dia pintar Bahasa Inggris, dalam arti bukan pintar berbicara tapi pintar dalam mengenal segala seluk beluk tentang Bahasa Inggris. Kalian yang tak berdarah campuran pun tetap belajar Bahasa Indonesia kan?” Terang Pak Ronald dengan sikap bijaknya membuat semua murid tertegun dan lambat-lambat menerima penjelasan Pak Ronald, rupanya Pak Ronald ini sudah lancar Bahasa Indonesia. “Tidak apa-apa, ini bukan salahmu Miss.Arina, saya mengerti kondisi psikologis Miss.Azura saat ini. Mari kita lanjutkan pelajaran.”Arina hanya mengangguk pelan sambil menatap ke luar jendela.
Setelah Azura kembali, tak ada seorang pun yang mau atau berani mengajaknya ngobrol atau paling tidak bertanya. Arina pun hanya bisa menatapnya dengan beribu tanda tanya di kepalanya. Sedangkan Azura, tetap dengan kesehariannya, sibuk ngetik-ngetik di netbook-nya tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Arina tak lagi bisa diam, dia begitu penasaran dengan pribadi Azura. Sekitar sebulan, Azura tak berbicara sama sekali, Arina tidak yakin jika Azura bisu. Akhirnya Arina memberanikan diri untuk bicara dengan Azura setelah semua murid pulang. Tinggal Azura yang masih setia di tempat duduknya. Arina sudah hafal dengan kebiasaan Azura yang tak langsung pulang, melainkan diam sejenak di bangkunya selama beberapa saat.
“Maaf sebelumnya, kamu sebenarnya tidak bisu kan, Azura?” Arina memulai dengan pertanyaan yang langsung menuju pokok permasalahan. Azura hanya menatap Arina sebentar lalu beralih lagi. “Aku pernah melihatmu sedang menelepon diam-diam saat semua murid sudah pulang. Bagaimana mungkin orang Tuna Wicara bisa menelepon tanpa bicara walaupun seandainya kamu pake bahasa isyarat. Kulihat, HPmu juga bukan model 3G. Kamu juga gak pernah kulihat menggunakan bahasa isyarat di depan orang seperti penyanda Tuna Wicara pada umumnya.” Arina terus memberikan pendapatnya sambil terus menatap Azura. “Aku tidak tahu apa kamu pura-pura bisu atau tidak, aku rasa itu bukan urusanku. Aku cuma ingin kamu percaya padaku dan bersedia menceritakan apa pun yang ingin kamu curahkan. Aku yakin kamu butuh teman.” Arina terus bicara sambil tetap menampakkan senyum di wajahnya. “Dan satu lagi...” Arina sedikit menghela nafas. “kenapa Netbook-mu pake huruf braille dan bukan QWERTY seperti pada umumnya?kamu kan tidak buta?Aku lihat kamu begitu lancar menggunakan keyboard braille itu, bahkan lebih lancar dibanding orang yang menggunakan keyboard QWERTY.”
Azura tetap diam, tapi kemudian dia membuka tasnya, mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah amplop berwarna biru. Azura memberikan amplop itu pada Arina. Arina menerimanya dengan tampang bingung. Lalu Azura berdiri diikuti dengan Arina, Azura memberikan senyum pada Arina. Senyum pertama yang diberikan pada seseorang selama dia sekolah di SMA Kartika. Sangat bisa ditebak, Arina begitu senang dan kembali membalas senyumnya, tapi kemudian, Azura langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Arina dalam tawa.
Arina begitu penasaran dengan isi suratnya. Dia buru-buru pulang untuk segera membaca surat dari teman sebangkunya itu. Pelan-pelan dibuka amplop biru nan cantik itu lalu mengambil kertas di dalamnya yang juga berwarna biru.
Dear Arina
Aku menulis surat ini karena sudah menduga suatu hari pasti kamu bakal banyak bertanya padaku. Namaku Azura Rosi Chavi, lahir dan besar di Inggris. Aku memang bisa Bahasa Indonesia karena ibuku orang Bandung dan sejak kecil, aku diajari 2 bahasa sekaligus.
Aku memang tidak bisu....aku bisa bicara....
Aku memang sengaja tak bicara karena aku tak mau mengeluarkan segala kebohongan lagi.
Kamu pasti bingung....
Mataku ini selalu melihat kebohongan, melihat tingkah polah orang tuaku yang begitu gemar selingkuh. Kupikir itu sudah menjadi hobi bahkan kebiasaan. Dan lidahku ini serasa sering merasa pahit setiap mengatakan sesuatu yang bersifat kebohongan, selalu berbohong ketika harus menyembunyikan perselingkuhan papa dan mamaku. Selalu berbohong ketika kakak perempuanku meminta aku mengatakan pada mama dan papa, bahwa dia anak baik dan pintar, padahal, kakak hobi clubbing dan minum minuman keras, belum lagi pergaulannya yang bebas. Apa kamu pikir aku tidak tersiksa melihat tingkah laku ortu dan kakakku?? Belum lagi telingaku yang jarang mendengar kebenaran, selalu saja kebohongan, bohong kalau papa sibuk kerja padahal lagi jalan sama pacar gelapnya. Bohong kalau mama sibuk meeting padahal lagi asik sama selingkuhannya dan bohong kalau kakak sibuk belajar buat ujian padahal lagi asik clubbing sama pacar premannya. Aku tau semuanya! Aku melihat! Aku mendengar! Dan aku berbicara!
Hidungku ini juga sudah capek mencium bau alkohol setiap hari, mencium kebohongan yang dilakukan keluargaku, bahkan kulitku ini selalu merinding setiap melihat tingkah laku mereka di luar. Aku harus bagaimana??Apa aku harus hancur seperti mereka?? Aku berpikir kalau aku tak perlu bicara, lebih baik diam daripada harus sering menebar kebohongan di setiap orang.
Untuk masalah huruf braille di netbook-ku, aku memang tidak buta, tapi aku pernah buta. Aku pernah memberikan mataku pada kakakku. Suatu hari, kakakku kecelakaan gara-gara dibonceng pacar sialannya dan ngebut sampai nubruk pembatas jalan hingga kakakku terlempar beberapa puluh meter, itu membuat mata kakakku buta karena luka serius. Sayangnya, kakak hanya menikmati mata barunya itu selama seminggu karena lagi-lagi kakak kecelakaan bersama pacar sialannya yang membuat kakak meninggal dan untungnya pacar sialannya itu ikutan mati jadi aku gak perlu nyewa pembunuh bayaran buat ngebunuh tu orang. Setelah itu, matanya dikembalikan padaku. Kakakku sendiri tidak tahu kalau mata barunya itu sebenarnya adalah mataku. Aku sendiri menggunakan mata kakakku yang rusak dan jadi buta. Aku menghafal huruf braille dalam sehari supaya tetap bisa menjalankan aktifitasku bersama “si kecil” netbook-ku. Kupesan khusus netbook itu, khusus untuk orang buta. Pada akhirnya aku bisa melihat lagi, tapi aku sudah terbiasa dengan keyboard braille itu. Begitulah kira-kira alur hidupku. Terus mengalir namun begitu menyiksa. Tapi yang pasti, aku begitu sayang pada orang tua dan kakakku.
Aku percaya padamu dan bersedia jadi temanmuJ
-Azura-
Arina sempat menitikan air mata saking terharunya membaca surat kehidupan Azura. Arina tak pernah menyangka kalau Azura hidup dengan penuh penderitaan, tapi Arina juga senang karena Azura mau jadi teman Arina. Azura, kau hebat!Satu kalimat singkat Arina. Arina melipat kembali kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop birunya. Arina begitu penasaran ingin mendengar langsung suara Azura dan ingin ngobrol dengannya.
***
Arina berlari melewati koridor menuju kelasnya, kelas 1-A. Dia begitu semangat menyambut pagi, tak sabar ingin bertemu Azura, teman barunya, teman sebangkunya, dan bakal jadi sahabatnya. Arina membuka pintu kelas dengan semangat.
“AZURA..!!” Panggil Arina begitu dia membuka pintu kelas, tapi yang dicarinya tidak ada di tempat, padahal biasanya Azura selalu datang duluan sebelum Arina. Arina berjalan mendekati bangku Azura, tanpa sengaja, Arina melihat secarik kertas di laci meja Azura. Tanpa pikir panjang, Arina mengambil kertas itu dan membaca isinya.
Terima kasih dan sampai jumpa lagi, temanJ
Kalimat singkat itu membuat Arina kaget bukan kepalang. Arina langsung berlari keluar kelas menuju ruang guru, menanyakan keberadaan Azura dan...
“Azura sudah pulang ke Inggris, dia memang cuma sementara disini, cuma sebulan.” Kata Bu Lani, wali kelas 1-A.
Arina berjalan gontai menuju kelasnya, merasa sangat menyesal karena tidak bertanya sejak awal, dengan begitu dia bisa bicara dan mendengar suaranya sebelum Azura pergi. Kini, hanya tinggal kenangan hampa yang dirasanya, belum sempat ia mendengar suaranya, belum sempat ngobrol dengannya, belum sempat main ke rumahnya, belum sempat belajar bersama, belum sempat berbagi hidup dengannya. Hanya surat dan sebuah senyuman yang ditinggalkannya. Arina berhenti sejenak untuk melihat lagit biru cerah dan sekilas melihat bayangan wajah Azura yang sedang tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum yang diberikan padanya. “Pantas namamu Azura...artinya langit biru yang cerah.” Kata Arina pelan seraya tersenyum memandang langit yang cerah, sama dengan Azura.
-SELESAI-

 Note: Kalau gak salah inget cerpen ini pernah aku ikutsertakan di lomba nulis cerpen, lupa deh.

2 Mei 2020

The Days of Hera [CERPEN]

Senin “Kambing”
Aku mulai melihat tingkah adikku yang sedikit tidak biasa. Hera, namanya. Hera memasang foto sepasang kambing di figura kesayangannya. Entah apa maksudnya. Aku tetap berdiri di belakang Hera yang sedari tadi menatap sepasang kambing yang ada di figuranya. Hera memalingkan wajahnya dan berkata padaku, “Kak, kemarin aku mengambil foto sepasang kambing lucu ini. Bagus tidak?” tanya Hera dengan senyum simpul di bibirnya.
“Bagus sekali. Kambing milik siapa itu?” tanyaku ingin tahu.
“Milik seorang saudagar, kak. Tapi aku baru dapat kabar, kalau kedua kambing ini telah tiada karena ketidakberadaan nyawa.” aku terdiam dan Hera kembali menatap foto sepasang kambing itu.
Hera pernah bercerita padaku, bahwa ia begitu mengidolakan Albert Einsten.
“Di dunia ini tidak ada gelap, yang ada, hanyalah ketidakberadaan cahaya.”
“Di dunia ini tidak ada kejahatan, yang ada, hanyalah ketidakberadaan Tuhan di hati di manusia.”
Ketika Hera berkata bahwa kedua kambing yang ada di fotonya telah tiada karena ketidakberadaan nyawa, aku langsung teringat akan cerita Hera tentang Albert Einstein itu. Hera tidak menceritakan sebab musabab kedua kambing itu mati. Hera begitu senang dengan kata “ketidakberadaan”. Menurutnya, satu kata itu cukup halus ketimbang harus mengucapkan kata jahat, gelap, mati dan lain-lain.
Hera adalah anak biasa, ia baru kelas 1 SMP, tapi tingkahnya menjadi tidak biasa sejak masuk SMP. Aku berpikir, mungkin ini adalah masa transisi Hera yang akan menginjak masa remaja. Aku tak perlu khawatir akan hal itu. Biarlah Hera menikmati masa-masa remajanya selama itu baik.

Selasa “Boneka Hera”
Lagi-lagi aku melihat Hera duduk sambil menatap sebuah foto yang terpasang di figura kesayangannya. Kali ini, foto apa ya?
Aku tertegun saat mendekati Hera yang tengah menangis. Aku pun bertanya padanya.
“Dek, kenapa menangis?” tanyaku bingung.
“Bonekaku, kak......” Hera tak sempat melanjutkan kata-katanya karena isak tangis yang mengiringinya.
Aku melihat foto di figura itu. Sebuah boneka beruang kecil. Aku tahu boneka itu milik Hera dan seketika, aku melihat isi kamarnya. Boneka beruang kecil itu tidak ada.
“Bonekamu kemana, dek?” tanyaku dengan wajah pias. Boneka itu adalah boneka kesayangan Hera. Aku mulai menebak-nebak, jangan-jangan boneka itu hilang.
“Beriku lenyap tanpa bekas karena ketidakberadaan saksi mata.”
Beri, begitulah Hera memberi nama boneka beruangnya. Aku mengerti apa maksud dari “ketidakberadaan saksi mata”. Sederhana saja, beri hilang dan tak ada yang melihat ataupun tahu akan keberadaan beri, termasuk aku.
Hera terus menangis. Anehnya, Hera tidak berusaha mencari. Hera hanya duduk termenung menangisi foto beri yang ada di atas meja belajarnya. Aku kasihan melihatnya. Aku pun mencari beri ke setiap sudut rumah, menanyakan pada ayah dan ibu, mencari ke rumah teman-teman Hera tapi hasilnya nihil. Tak satu pun orang  tahu dimana keberadaan beri. Aku pulang dengan tangan hampa.
Kakiku melangkah perlahan menuju kamar Hera. Kulihat Hera sedang tertidur pulas sambil memeluk foto beri. Kemarin kambing, sekarang boneka, besok? Aku berharap, Hera bisa segera pulih dari kondisi ketidakberadaan beri. Ah, aku mulai tertular penyakit kronis Hera. Kulihat air mata Hera masih menetes, kuhapus perlahan air matanya dan aku berjalan pelan meninggalkannya dalam lelap.

Rabu “Buku usang”
Kembali aku memandang wajah sendu Hera
Hera tak menangis
Namun sendu begitu jelas tercetak di wajahnya
Matanya tertuju pada sesuatu di hadapannya
Sebuah foto
Foto sebuah buku tanpa sampul
Aku mencoba untuk bisa memahami bahasa tubuh Hera tanpa harus bertanya. Aku tahu Hera tidak sedang menangis. Kali ini foto sebuah buku usang tanpa sampul. Ada apakah dengan buku itu? hilangkah? rusak sudah pasti karena buku itu tanpa sampul. Lalu kenapa Hera begitu sedih? Akhirnya aku kembali bertanya. Bukan bertanya pada ilalang yang bergoyang, tapi pada hera yang mematung.
“Dek, ada apa dengan buku itu?” Aku langsung menuju pada topik permasalahan. Buku usang.
“Sungguh tak bertanggung jawab, orang yang merusak buku ini hingga tak bersampul. Orang itu tak jahat, hanya ketidakberadaan tanggung jawab.” Jelas Hera kembali menyinggung tentang “ketidakberadaan sesuatu”
“Apa itu sangat membuatmu sedih?”
“Sangat.”
Waktu terus bergulir dan ini baru hari Rabu. Kambing, boneka, buku, besok? Tak ada salahnya jika aku mencatatnya di buku harianku. Ini adalah proses transisi adikku, Hera. Hera yang pendiam, mulai banyak bicara. Hera yang pemalu, mulai bisa bertingkah. Hera yang pasif, mulai aktif. Hera yang lincah, kini lebih banyak duduk di kamarnya, mengganti foto di figuranya dengan foto-foto yang tak biasa. Hera menambah daftar pertanyaan di kepalaku.

Kamis “matahari”
“Menurut kakak, bagaimana jadinya jika kita hidup tanpa matahari?”
“Tentu saja kita tak bisa hidup tanpa matahari karena kita butuh matahari. Tanpa matahari dunia ini akan gelap selamanya. Ups, tak ada gelap kan? yang ada hanyalah ketidakberadaan cahaya.”
“Itu kata Albert Einstein, kak.”
Kamis ceria. Hera tak lagi diam dalam tangis, tak membisu tanpa kata, dan tak hilang dalam kesunyian. Kami tertawa bersama, menyatu dalam semangat matahari ketika menyinari bumi. Aku tak lagi khawatir, jika Hera kembali meratapi foto yag ada di atas meja. Hera tetaplah Hera, adikku sayang.
Hera memasang foto gambar matahari buatannya di figura kesayangannya dan kali ini, dipandangi foto itu dengan senyum merekah, tak lagi air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Aku mengajak Hera jalan-jalan di taman. Hera suka sekali melihat kembang mekar. Kebetulan, kembang-kembang di taman sedang mekar dengan indahnya. Ini kesempatan bagi Hera untuk bisa mengabadikan kembang-kembang indah dalam jepretan kameranya. Barangkali, esok, Hera akan memajang foto hasil jepretannya di figuranya. Aku tersenyum simpul.

Jumat “Kamera”
Malam kelabu. Kamar Hera gelap gulita. Ayah dan ibu sedang berkunjung ke sanak saudara di luar kota, praktis hanya ada aku dan Hera, adikku. Kubuka pintu kamar Hera dan kulihat Hera sedang duduk di kursi seraya memandangi sesuatu yang ia genggam erat. Aku mendekat, ingin tahu, apa yang dipandanginya.
Walau gelap, aku masih bisa melihat foto apa yang Hera lihat karena ada sedikit cahaya dari luar. Sebuah foto “gelap”. Kusebut gelap karena memang tak ada gambar apapun di dalam foto itu kecuali warna hitam.
“Dek, kenapa hanya gelap di foto itu?” tanyaku heran.
“Hanya karena ketidakberadaan cahaya, kak.”
Aku terdiam sejenak. Mencoba mencerna kembali apa yang dikatakan Hera, meski Hera sudah sering mengatakan hal serupa. Aku terus berpikir, ada apa sebenarnya. Baru saja kemarin, Hera tertawa bersamaku, kini Hera kembali menjadi misterius. Pelan-pelan, aku bertanya pada Hera.
“Dek, di mana kameramu?”
Hera terdiam sejenak, kemudian menjawab perlahan, “Kameraku hilang karena ketidakberadaan uang.”
PLAK!!!
Tanpa sadar, tanganku mendarat keras di pipi Hera, adikku. Hera terdiam tanpa mengaduh.
“APA KAU TAHU BERAPA HARGA KAMERA  ITU?? DAN APA KAU TAHU BAGAIMANA SUSAHNYA AKU MENGUMPULKAN UANG UNTUK MEMBELIKANMU KAMERA ITU??” Aku begitu marah. Tak tahu lagi harus berkata apa. Aku keluar dari kamar Hera, meninggalkannya dalam gelap kesunyian. Kamera itu khusus kubelikan untuk Hera yang suka sekali memotret. Kukumpulkan uang untuk membeli kamera itu dan sekarang kamera itu hilang.

Sabtu “Surat”
Aku membuka pintu kamar Hera perlahan. Kulihat Hera masih tertidur lelap. Kulihat pula bingkai foto kesayangannya yang dalam posisi terbalik. Aku sudah enggan untuk melihat foto yang ada di bingkai itu. Rasa kesal masih menyeruak di dadaku. Aku kembali menutup pintu kamarnya dan segera keluar dari rumah, sekedar mencari ketenangan.
Aku pergi mengunjungi rumah teman di luar kota. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan Hera, tapi ini kulakukan untuk menghilangkan rasa kesalku pada Hera. Hanya karena sebuah kamera. Apakah aku jahat?
Aku mencoba tenang dan perlahan memikirkan semuanya. Aku sadar, aku salah. Tak seharusnya aku menampar Hera. Dia adikku, aku harus selalu sayang padanya. Aku malah lebih memilih kamera ketimbang Hera. Bodoh sekali! Aku menyesal. Maafkan aku, dek Hera. Ini karena ketidakberadaan hati.
Aku menulis sepucuk surat untuk Hera. Kutulis rapi di kertas surat lucu berwarna biru. Aku juga mengabadikan surat ini dalam sebuah kamera handphone-ku. Kelak, mungkin Hera akan memajangnya di figura kesayangannya. Aku datang, dek.

Minggu “..............”
Antara ketidakberadaan nyawa sampai ketidakberadaan hati. Dua hal yang saling berkaitan. Aku yang semula tak memiliki hati hingga tega menampar sang adik hanya karena sebuah kamera, kini harus menerima kenyataan pahit yang harus kutelan sendiri. Hera meninggal dunia dengan tenang, Sabtu kemarin. Tubuhku bagai terkena bom, hatiku hancur seketika, pikiranku melayang, kembali memutar memori kala aku menampar hera, tanganku bergetar, bibirku turut bergetar, ingin mengucap sesuatu, namun aku telah kehabisan kata. Tak lagi kusuruh air mataku untuk keluar, air mata penyesalan ini telah deras mengalir. Kakiku dengan cepat berlari masuk ke rumah dan melihat sesosok tubuh tertutup selimut. Aku mendekat, kian mendekat, hingga aku bisa melihat wajahnya.
Hera tak lagi bisa membuka matanya. Kugoyang-goyangkan badannya, tapi Hera tak bergeming. Kukutuk diriku sendiri saat ini juga. Ibu memberikan sebuah kotak kecil padaku. Kubuka kotak itu perlahan. Saat itu juga, air mataku kian deras mengalir.
Sebuah foto dalam bingkai beserta surat. Foto aku dan Hera. Aku hanya bisa berteriak memanggil-manggil nama Hera.
Hera tiada karena ketidakberadaan nyawa.

-SELESAI-

Note: Cerpen ini ada di Buku Antologi Cerpen "Life Puzzle" yang diterbitkan secara Indie oleh nulisbuku.com



28 Apr 2020

Anta si Kucing Introvert

Awalnya, dia kucing tak bernama. Biasanya cara paling jitu untuk manggil kucing tuh dengan sautan "puusshh puuush" doank. Seiring berjalannya waktu, takdir mempertemukan si kucing dengan si pencinta kucing yang memberinya nama Anta. Anta jadi kucing paling populer di kantor. Nama itu menjadi sangat familiar di telinga kami. Anta adalah tipe kucing introvert yang kalau muncul species kucing baru, dia lebih milih ngumpet, entah karna malu atau takut dikawinin yak (?).


Usut punya usut, Anta udah steril alias udah gak bisa bunting. Sebagai seorang awam, aku gak paham apakah pilihan untuk meng-steril-kan kucing itu berprikehewanan atau tidak. Adikku yang juga ucing lover bilang kucing itu kalau berkali-kali beranak juga gak baik buat kesehatan si kucing itu sendiri. Hmm i see anggaplah Anta udah berkali-kali beranak dan kalau sampai beranak lagi takutnya dia kena penyakit kelamin.

Hari-hari kami di kantor penuh warna, ditambah dengan keberadaan si putih abu pendiam ini. Hobinya naik ke meja lalu santuy goler-goler di atas keyboard laptop atau tahu-tahu minum air di gelas empunya meja. Belakangan ketauan tiap kita pulang kerja, dia santuy sebat di tangga.

Aku dan beberapa teman lainnya hanyalah orang yang tidak terlalu over care sama kucing. Berterimakasihlah pada si cewek pencita kucing yang dengan tulus rajin bawa makanan plus snack sorenya. Seiring melunaknya hati kami, jadilah ikutan beli makanan dan snack kucing bahkan susu kucing pun dibeli. Iya, demi si putih abu Anta. Di lehernya pun sudah dipasangi kalung dengan bel kring kring sebagai tanda kalau dia datang.

huft, mulai sedih.

Tidak ada maksud buruk sedikitpun ketika suatu hari Anta ingin dibawa pulang oleh salah satu dari kami, si pecinta kucing karena kondisi pandemi Corona yang membuat kita akan jarang ke kantor (ternyata tidak terbukti). Kebetulan, si pecinta kucing ini memang melihara kucing dan hewan-hewan lainnya di rumahnya jadi kami tentu saja sangat percaya kalau Anta ada di tangan yang tepat. Kami membayangkan Anta bakal happy ketemu kucing-kucing lainnya, makannya terjamin, tempat tidurnya pun sudah pasti nyaman. Fix, dia gak bakal kelaparan.

Tanpa ragu, Anta dibawa pulang, naik mobil bagus. Anta jadi salah satu kucing beruntung karena pernah naik mobil bagus. 

Hari itu berjalan baik dan lancar, Anta keliatan happy dengan lingkungan barunya.

Tapi rupanya tidak lama. Anta keluar rumah dan tak kembali sampai detik ini.

Dari situ kami menyesal. Menyesal karena dengan percaya diri menganggap Anta akan happy dan baik-baik saja di tempat baru. Mungkin saat itu dia hanya ingin main di luar, tapi tak tahu arah pulang. Atau mungkin Anta ingin kembali ke kantor tempat dia dibesarkan?

Bapak Security kantor bilang Anta udah di kantor ini sejak kecil.

Makin menyesalah kami. Meski seekor kucing, harusnya kami tahu kalau kuicng juga bisa jadi hewan teritorial, kalau sudah terbiasa di satu tempat, dia ga akan kemana-kama. Biasanya memang seseorang baru sadar setelah kehilangan.

Anta, kamu di mana? 

Aku memang bukan pecinta kucing, aku juga gak se-care teman-teman lain kalau soal Anta. Tapi ya gitu, begitu gak sengaja lihat foto selfiku bareng Anta rasanya....ada yang kurang ya?

Anta, pulang dong...

Masih tetep optimis Anta bakal pulang.

Maaf ya Anta, rupanya kita memang belum sepenuhnya paham kalau sebenernya kamu gak ingin kemana-mana. Kamu pengen tetep di kantor ini ya....







26 Apr 2020

Di balik Lensa Kacamata

Sudah 2 tahun aku dan suami merantau di Depok. Rasanya? banyak kejutan. Dari kecil, aku sudah terbiasa beradaptasi dengan lingkungan baru. Ya gak nyangka juga sampe nikah pun masih harus berhadapan dengan lingkungan baru. Dari pengalaman sebelumnya, semisal aku sudah ada di zona nyaman, gak lama kemudian seperti "diusir" dari zona nyaman itu dan "dipaksa" masuk ke zona baru yang entah bakal nyaman atau gak.

Aku rasa manusia itu memang punya skill khusus untuk cepat beradaptasi di lingkungan baru. Karena aku sudah cukup sering mengalami hal itu, aku punya trik tersendiri. Untuk manusia introvert nyebelin kayak aku sih emang gak bisa seenak udel aja ngobrak abrik tempat baru, maksa orang biar mau temenan sama aku. No no no, akulah yang harus maju, aku yang harus nyari temen, aku yang harus mencari kenyamanan itu, aku juga yang harus menjadikan tempat ini zona nyamanku yang baru. Susah? pasti. Mencari temen yang bisa klik itu gak mudah. Aku harus berubah wujud dulu dari yang aslinya introvert jadi semi semi extrovert.

Bogor jadi calon zona nyaman baruku. Bogor memang bukan cerita baru banget sih, aku kuliah di Bogor, pulang ke Bandung setelah lulus dan ternyata aku kembali lagi ke Bogor. Lucu memang, sih. Tapi tetep, ini jadi tempat baruku sampai entah berapa lama. Dalam 2 tahun ini aku bersusah payah menyulap tempat kerja baruku ini menjadi zona nyamanku yang baru. Makin ribet karena tempat tinggal di Depok.

Surprisingly, meski banyak hal-hal yang membuat aku terkezot dan ragu, akhirnya aku bisa juga membuktikan kalau aku bisa membaur di sini. Gemes aja gitu udah lama gak nyeritain manusia-manusia di balik layar yang berjasa dalam hidupku yang lucu ini. 

*
Sempat kukira sudah berkeluarga karena foto profil Telegramnya bareng anak kecil, eh ternyata belom gaess. Mbak yang satu ini bisa dibilang orang pertama yang aku kenal bahkan sebelum aku resmi pindah. Yaiyalah HR gitu lho ah. Dari awal, aku kayak asistennya, ngikutin mulu karena aku belum punya job desk yang jelas. Beruntung banget rasanya bisa kenal baik sama mbak ini, keliatannya lembut hatinya, baik tutur katanya, santun sifatnya, sholehah insyaAllah, tapi anda kena prank haha dia ini sekalinya ngomong, bisa bikin kita krik krik sejenak lalu bikin gelak tawa menggelegar, seringnya kzel sih :)) Doaku untuk bu CEO (begitulah panggilannya) semoga kelak mendapatkan zodoh yang luar biasa SOLEH, bijaksana, bertanggungjawab dan CEO juga deh. Aamiin.

*
Asli dah ini cewek kalo diem cantik banget. Jangan ketipu ya, emang awalnya doank imut, ke sininya amit-amit jabang jabang. Sampai detik ini belum ada yang bisa mengalahkan cemprengnya suara doi, toa masjid aja kalah deh kayaknya. Dia bisa diem cantik kalau lagi bete,puasa, ama sakit doank gaess. Eh, kalo lagi bete mah galak ding. Oia dia itu jiwa galaknya ngalahin cewek PMS. Di balik sifat nyebelin yang tak terkalahkan, cewek sholehah masyaAllah ini cukup menyenangkan untuk jadi temen ngupi-ngupi sama ngemol, kesian aja jarang ngemol soalnya he. Buat dedekQ, semoga kalau sudah berumah tangga........apa ya bingung.


*
Perjumpaan kita agak random, akhirna mah aku dan cewek ini jadi satu tim. Kita berdua punya kesamaan, agak norak kalau ke tempat baru, tapi justru itu yang seru, kan jadinya ogut gak norak sendirian. Dari awal aku udah klop kerja 1 tim, seringnya kita sepemikiran, satu frekuensilah ya. Seingatku, kita hampir gak pernah punya masalah,sekalinya beda pendapat, ada aja yang ngalah. Kadang, dia juga bisa bertingkal konyol, memang aku suka tipe-tipe temen yang gak jaim dan apa adanya. Buat mamah muda, jangan cepet-cepet punya anak kedua, ya..tungguin akulah :)

*
Ini cowok kalem and cool parah. Udah aku anggep adek bangetlah. Awalnya aku pikir, wah dia pasti tipe-tipe yang banyak disukai ciwi-ciwi. Cukup sering kita terlibat obrolan, entah itu ngomongin kerjaan atau ngomongin tentang dirinya. Biasanya kita ngobrol kalo lagi gak banyak orang. Aku perhatiin sih dia bisa ngomongin masalah pribadi sama siapa aja asal pas gak lagi rame. Hobinya ngoprek HP, sering banget dimintain tolong ganti layar HP atau benerin laptop bahkan ngedit foto sampai bikin alur colokan listrik seruangan haha, anak IT banget yekan. Sedihnya, akhir-akhir ini jarang ngobrol jadinya gak update cerita terbaru, biasanya aku udah kayak emak-emak komplek yang kudu apdet gosip-gosip tetangga. Buat adekQ yang paling ganteng sekantor, apapun cerita sedihmu (yang kutahu) jadilah laki-laki yang selalu tegap berdiri dengan kepala tegak, jatuh sekali itu biasa, yang gak biasa itu jatuh 6 kali tapi bangkit 7 kali. Aku tunggu undangannya yak!


*
Cowok yang satu ini agak unik. Hobinya jadi objek penderita. Sering banget diledekin temen-temennya (termasuk aku sih). Kalau udah menyangkut pekerjaan, gak tau kenapa sering dibully haha sabar ya dedek gemez. Jangan salah, meski begitu, dia pelari, hobi banget lari, sering banget ikut maraton sana sini. Menurutku, dia punya pandangan hidup yang unik kok, memang agak beda cara menyikapinya dibanding yang lainnya, but its okey itu bukan masalah. Aku juga cukup sering terlibat diskusi tentang masa depan dengan manusia unik ini, bakatnya kelihatan sih, dia pede di depan kamera, cukup camera/video genic heu. Orang selalu salah menilai dia, itu bisa jadi karna orang lain belum menerima keunikanmu aja. Buat kamu wahai manusia unik, jangan terlalu memaksakan diri, kalau memang kamu merasa tidak cocok dengan duniamu (bukan berati gak bisa) tapi kamu masih ingin ada di situ, jangan bosan untuk belajar dan bertanya dan tentu saja jujurlah tentang apapun, jangan sok kuat ya~

*
Dia ini cowok paling rebel seantero alam semesta jagad raya. Aku belum lama kenal,memang agak telat karena dia aslinya kerja di Depok lalu pindah ke Bogor. Entah kenapa malah jadi paling deket sama ini manusia rebel. Dia udah bukan adek lagi tapi adek banget, saking udah aku anggep adek, kalau dia lagi nyebelin, bisa aku marahin beneran, peduli amat dia ngambek juga. Iyap, dia pernah ngambek haha. Dia terkenal karena kalau nyanyi bagus, emang itu jadi salah satu pekerjaan sampingannya (apa kerjaan utama ya?). Kalau sebelumnya aku bilang si cowok cool itu tipe yang banyak disukai ciwi-ciwi, rupanya dia ini malah jadi contoh nyatanya haha. Terbukti memang ciwi-ciwi lebih seneng cowok humoris, supel, gampang bergaul (apalagi bisa nyanyi) ketimbang cowok cool dan kalem. Gak perlu aku deskripsikan wajahnye kayak apa karena aku suka ngeledekin bentuk rambutnya :)) Untukmu yang sedang berjuang dan memperjuangkan gadismu, jangan sampai turun semangatmu, jangan sampai terlalu silau sama dunia, ya. Kamu tetap adekQ yang paling rebel.


*
Aku baru ngerasa deket sama cewek aktif ini belum lama. Baru disadari kita sering satu rasa dan pikiran kalau soal ngeledekin orang haha. Cewek ini punya daya juang yang gak biasa. Aku bisa merasakan perjuangan hidupnya yang penuh peluh dan keringat, tapi hasilnya sangat nampak saat ini. Definisi cewek tegas dan galak itu terpampang nyata di raganya. Umurnya beda sekitar 8 tahun denganku. Set dah tua bet gueh. Memang bener sih ya orang yang pernah merasakan kerasnya hidup bisa punya pemikiran dewasa. Itulah dia. Oh iya, dia ini selain punya daya juang yang besar, feeling dan insting kemanusiannya juga besar. Aku banyak belajar dari pengalaman hidupnya. Semoga rencana pernikahan impianmu segera terwujud ya gaess :D

*
Sama-sama lahir di Bulan Agustus, secara kepribadian gak jauh beda, cuma bagian centilnya yang beda haha. Dia cewek yang realistis menurutku, kami juga 1 tim. Ak sadar gak terlalu dekat dengannya. Buatku, untuk dekat atau akrab dengan seseorang perlu jam terbang. Dia sama dengaku, sama-sama anak baru di Bogor, cuma beda beberapa bulan setelah aku muncul. Orangnya sangat tergila-gila dengan drama korea, aku cukup denger ceritanya aja tanpa harus capek-capek nonton. Beberapa kali sharing masalah relationship, cukup kompleks tapi untuk tipe cewek tangguh macem dia sih yakin mampu mengatasi. Buat incess, semangat dietnya, kalau makan plis lauknya jangan kebanyakan, kenyang liatnya haha, tetep realistis dalam menyikapi hidup, sabar menghadapi orang yang berbeda dunia denganmu, kelak nanti akan ketemu di satu titik di mana kamu dan dia bisa bersatu karena satu alasan. 

*
Akhirnya aku punya kakak cowok yang sangat bisa diandalkan. Dunia ini sempit, jauh sebelum jadi rekan kerja, sebenarnya bisa saja ketemu abang rese' ini di kampus karena kami 1 almamater. Dia bahkan sempat jadi dosen teman-teman 1 genk-ku. Cuma aku yang bukan muridnya haha. Takdir terkadang lucu, mungkin kita pernah papasan atau mungkin ketemu di warteg samping kampus tapi Allah berkata 'belum saatnya' haha. Lucu gak sih. Orangnya pekerja keras. banget. aduh gak bisa diungkapkan dengan kata-kata gimana dia kerja keras meski sering ngedumel tapi kuota ikhlasnya masih lebih banyak ketimbang keluhannya. Sempet gereget oemji dengan beberapa cerita-cerita masa lalunya. Gregetnya itu mungkin dia ga akan sering terdzolimi kayak sekarang kalau dulu begini dan begitu, tapi balik lagi Allah punya cara unik yang kadang gak bisa kita pahami. Sabar dan Ikhlas, itu yang selalu dia bilang sampe berbusa-busa. Mungkin hasilnya belum terlihat sekarang ya, tapi yakin banget akutu suatu hari satu persatu mimpimu bakal ada di depan matamu, sekarang nikmati dulu prosesnya, meski sulit dan butuh banyak tenaga, sabar dan ikhlas, inget aja ada perempuan hebat di belakangmu, yang selalu bawain bekel (tolong diabisin dong gimana sih). Kalau udah ngerasa capek, panggil aja bebeb 3 kali haha.


Teman-teman itu jadi poin penting bagaimana aku bisa merasa nyaman ada di lingkungan baru. Aku sudah ada di tempat yang tepat di mana aku bisa jadi diri sendiri. Jadi udah merasa nyaman belum? jawabannya sudah :)


note: rangkaian kata yang kuketik saat pandemi corona melanda Indonesia. Gak bakal terlupakan.










Welcome Home Anta!

Cek cerita hilangnya Anta DI SINI Sekitar 2 minggu yang lalu, di malam Jumat yang syahdu, notifikasi HP berdering berkali-kali. Si pecint...