Seberapa Pentingkah Sebuah Gelar?

-Postingan ini agak serius (dikit)-

Setiap saya buka twitter ataupun baca berita di yahoo.com, ada saja berita tentang kasus Mba Marissa yang sedang berseteru dengan rekan-rekannya, sebut saja Dee Kartika (haha). Entahlah, saya tidak mau membahas lagi tentang masalah itu. Masalah yang timbul, tidak hanya sebatas perseteruan antar public figur, tapi merambat ke masalah kode etik seorang blogger tentang bagaimana cara menyikapi komentar-komentar yang masuk. Dalam hal ini,  Mba Marissa juga seorang blogger.

Masalah komentar yang diganti itu sudah banyak dibahas oleh para blogger, termasuk di dalamnya "korban" yang komentarnya diubah oleh sang pemilik blog. Entah apa maksudnya, hanya Tuhan dan sang pemilik blog saja yang tahu. Saya sendiri masih bertanta-tanya, apakah komentar-komentar itu diubah oleh Mba Marissa ataukah ada pihak-pihak lain? siapa pun yang berperan dalam pengubahan komentar itu, tetaplah tanggung jawab ada pada pemilik blog.

Oke, kembali ke topik.

Seberapa pentingkah sebuah gelar?

Semua orang pasti menginginkan ada tambahan gelar di depan namanya. Lalu, apakah kemudian kita harus bangga akan tambahan gelar tersebut. Menurut saya, gelar adalah tanggung jawab. Semakin tinggi gelar yang kita miliki, maka akan semakin besar juga tanggung jawab kita. Dan gelar juga bukan semata-mata memperlihatkan kepintaran kita dalam bidang akademik saja, tapi juga dibarengi dengan sikap dan perilaku kita. Bener nggak sih? saya hanya berpendapat. Saya juga sering merasa takut kalau nantinya tak bisa mempertanggungjawabkan sebuah gelar yang saya miliki (itu juga kalau saya dapat gelar hehe).


Kembali saya menghubungkannya dengan isu sosial yang sedang terjadi. Ketika saya membuka blog Mba Marissa dan membaca artikel tentang perseteruan itu, hmmm...baru baca judulnya saja, saya sudah ngeri. Kenapa? saya pikir menulis juga ada etikanya. Kita bebas kok mau menulis apa pun di blog kita. Entah itu kritik, saran, curahan hati dsb. Tapi, harapan kita, bahwa semoga tulisan kita tidak akan mengundang masalah, apalagi kalau sampai membawa-bawa hukum. Emm...serem

Saya tidak akan mengomentari artikel perseteruan itu. Saya yakin, Mba Marissa lebih tahu dan mengerti tata cara menulis yang baik daripada saya. Cuma saya agak heran aja. Memangnya membuat sebuah tulisan berisi klarifikasi itu susah, ya? Teman-teman blogger, khususnya yang menjadi korban yang komentarnya diubah, kan butuh klarifikasi, agar nantinya tidak timbul fitnah. Namun sampai sekarang, belum ada klarifikasi apa pun dari yang bersangkutan. Malah saya menemukan ini dari blog wongkamfung




Ini bikin saya tambah bingung lagi. Andai saya adalah salah satu korban, saya pasti berpikir begini. "Lah yang  punya masalah itu kan Mba Marissa, kenapa kita yang musti fokus??kita kan fokusnya sama komentar-komentar yang diubah. Hmmmm...."

Waduh Mba, saya pikir membuat klarifikasi itu nggak sesulit menyusun skripsi, tesis, bahkan disertasi. Yakin kalau soal karya ilmiah, Mba jagonya deh, kan mau jadi Doktor. Tapi saya berharap sekali, Mba mau menyanggupi permintaan para blogger yang tentu saja meminta sebuah klarifikasi. Nggak minta lebih, kan ya?

Gelar oh gelar.

Banyak orang yang tak memiliki gelar, tapi memiliki skill yang jauh lebih bagus ketimbang yang memiliki gelar. Gelar tak menentukan segalanya. Setidaknya, itu menurutku. Saya juga tahu masalah ini lewat twit Mba Nonadita. Kebetulan saya penggemar Mba Nonadita, salah satu blogger yang komentarnya di blog Mba Marissa, diubah oleh sang pemilik blog..

Ada lagi yang membuat saya terheran-heran hmm...blog milik Mba Marissa memang tak hanya satu. Saya sudah menemukan tiga blog milik Mba Marissa
http://marissahaque.blogdetik.com/
http://anak-anakbundamarissa.blogspot.com/
http://ipb-marissahaquefawzi.blogspot.com/
dan mungkin masih ada lagi.

Isinya pun tak jauh beda. Saya bingung karena antara Mba Marissa dan lawan seterunya terus-terusan saling tuding dan tak ada yang mau mengalah. Ya nggak akan selesai-selesai. Berawal dari postingan Mba Marissa yang berjudul  "Marissa Haque: Addie MS Diduga Bermental Bully (dari Hasil Investigasi Masa Lalunya di SMAN3)"...udah bisa ditebaklah ya, isinya seperti apa dan sedang menyalahkan siapa. Baik, saya tidak akan mengomentari postingan tsb. Lalu sekarang saya menemukan berita ini, Kevin Merasa Tak Punya Masalah Dengan Marissa Haque...silakan simpulkan sendiri heu.

Saya jadi bingung sendiri. Jadi, yang salah itu siapa??? A dan B saling menyalahkan dan tidak ada pula yang mau disalahkan serta tidak ada yang mau mengalah haha. Ya sudahlah, itu urusan yang punya masalah saja. Saya hanya mencurahkan kebingungan saya.

Ada-ada saja, ya hehe. Semoga masalah yang ada, cepat selesai dan tidak bertambah panjang melebihi panjangnya sinetron. Kalau dibuat sinetron, bakal seru tuh. 

Kalau saya pikir-pikir lagi, Mba Marissa marah karena Mba Dee meragukan ke-Doktor-an Mba Marissa. Kenapa Mba Marissa nggak kasih lihat saja bukti Doktornya, beres urusan. Kemudian soal permintaan teman-teman blogger tentang klarifikasi pengubahan komentar. Mungkin lebih sulit membuat tulisan berisi klarifikasi ketimbang Disertasi heuheu.

Pertanyaan terakhir, "kemanakah Sodari Dee Kartika?" (meneketempe)


Sekian dari Ca Ya


Yuk Mariii


Komentar

  1. gelar itu akan lebih berharga kalo emang kita dapet dengan saha kita sendiri :)

    BalasHapus
  2. @Emelia: pastinya jg disertai dgn tanggung jawab :)

    BalasHapus
  3. Soal si MH... dia itu jahat banget. Kalau pun dia ada di posisi benar, nggak mungkinlah dia bakal nulis2 marah2 di blog kayak gitu. Apalagi dia berjilbab + banyak gelarnya. Miris.

    BalasHapus
  4. Ini isinya lebih membahas tentang Marissa kaya'nya. :3. Yang jelas dia sudah merusak image dia sebagai wanita berjilbab yang seharusnya bisa menjaga omongan. Dan soal gelar, Belum tentu orang dengan gelar S.Kom lebih pintar daripada seorang anak SMK. :)

    BalasHapus
  5. secara ngga langsung si tante kamseupay itu udah nurunin harga dirinya sendiri

    BalasHapus
  6. Gelar itu penting, sebagai prestige di mana masyarakat dan juga tanda bukti perjuangan keras kita, hehehe

    BalasHapus
  7. @Alvi: sabar bung :D...mgkn mba MH lg sensi :D

    @Afrinaldi: ho oh ember,,krna msi anget ky'a wkwkkw....betul2,,ye buktinye byk sarjana pengangguran :))...aduh,,aye belom sarjana neh :D

    @Beby: begitu sepertinya :3

    @Claude: iyap gak salah kok,,lgan perjuangan bwt dapetin gelar sarjana jg gak mudah heu

    BalasHapus
  8. gelar itu penting lhoo (menurut gw) soalnya tanpa gelar kita nggak bisa nyari kerja di masa sekarang hahahaha
    tp yg namanya gelar juga jangan cuman gelar abal2 doang... emang harusnya dipertanggungjawabkan dengan baik..
    kalo ngomongin masalah masrissa haque, menurut gw dia adalah orang yang nggak penting banget. terlalu besar2in masalah... dan dengan sikapnya itu aku malah justru semakin mempertanyakan gelarnya.
    harusnya dia tunjukkin dong sama orang2 kalo dia itu emang orang berintelegensi tinggi yang bisa menyikapi masalah yg dia alamin dengan rasional

    BalasHapus
  9. yang penting apresiasi nya dari gelar tersebut... =D

    BalasHapus
  10. gelar itu ibarat kata harga diri seseorang,jika dia bisa menjaga gelarnya pasti dia bisa menjaga harga dirinya,kalo mba marissa ini seperti nya tidak dua2nya..

    BalasHapus
  11. @pink: hehhe iya,,gelar itu emg pntg kok..tp byk jg yg menyalahgunakan gelar -____-

    @Uzay: mantab :D

    @Nonni: hmmm hanya Tuhan dan beliau yg tahu :D

    BalasHapus
  12. jahat banget ngubah komentar orang. baca blog yg bersangkutan kok sepertinya ngajak berantem dan mau musuhan gitu ya -___-
    baru aja intip twitternya mbak MH. kebanyakan isinya ngetag mbak Memes sama suaminya. kasihan. gak nyambung kayaknya. dia marahnya ke siapa, eh marah ke siapa. mungkin MH dulunya punya dendam kali ya sama mereka #sotoy. tapi jangan lebay gitu ah. kesannya CaPer (cari perhatian).

    BalasHapus
  13. Ini yang lagi trending topic itu ya?
    baru tauk -___-"

    kckckckck kemana aja gue selama ini.
    nice info dan iya gelar itu penting kayaknya deh sekarang. kecuali lo kreatif gak perlu gelarpun bakalan sukses :)

    BalasHapus
  14. @Chilfia: heheh sabar jeng :D yah,mgkn emg lg esmosi aja x ya :D

    @Ucank: hahahha kmn aja drimu nak :D wah,sibuk kul ni pasti :D
    betul,asal kereaktip mah apa aja jadi :D

    BalasHapus
  15. Mbak Marissa, kenapa jadi trouble maker gitu ya??? Nggak malu apa ma pendidikannya? Tu sama aja malu2in almamater tau...........

    BalasHapus
  16. hahah....tadinya sy pikir ini isu ga penting banget..tp setelah baca blognya Wongkamfu...jadi ngeh...o ternyata...o ternyata....kesimpulannya MH memang sakit...kasian anak n suaminya...smoga Allah memberi hidayah dan kesembuhannya...amin.

    BalasHapus
  17. GELAR. Menurut hemat saya, suatu GELAR dicapai bukan hanya melalui jalur akademis (Diploma, S1, Mxx, Doktor, Prof), melainkan melalui jalur lainnya (ulama, Hj & Hajah, Sutan, Sultan, etc).
    Ada kalanya gelar yang dicapai memuaskan hati, terutama demi gengsi atau ego. Tapi sangatlah tidak layak, jika gelar yang dicapai hanya sekedar embel2 di kartu nama atau KTP saja. Sedangkan penerapannya: nihil.
    Memang gelar bisa memberikan kebanggaan, namun jangan sampai ilmunya tidak dapat diterapkan. Apalagi jika gelar itu akhirnya membuat manusia sombong. Karena ketika kembali kepangkuan-Nya, gelar yang kita bawa hanya satu: almarhum.
    Nice post sist :)
    Semoga jika nanti sudah mendapatkan gelar, bisa dipertanggungjawabkan dalam segala aspek.

    Best regard

    BalasHapus
  18. @Restu: waduh,ndak tw sayah :D...mgkn beliau tak bermaksud bgtu x heu

    @anonim: Amin hehehe..ya iya,sakit ati heu :)

    @kampretwashere: yah begtulah,,,susah emg,,,kenyataannya gelar biasa bwt begaya heu :D

    BalasHapus

Posting Komentar

was wes wos...^^

Postingan populer dari blog ini

Detektif Conan: Makin Seru Makin Rumit Makin Menjadi

Detective Conan [Puzzle yang masih berantakan]

Detective Conan : Never Ending Story (?)